Salah Kaprah Memaksakan Konsep Mewah dalam Perayaan Maulid Nabi

Unsplash/Adli Wahid


 

Nabi Muhammd saw. merupakan figur utama dalam agama Islam. Beliau merupakan Sayyeed al-Anbiya` wa al-Mursaleen, yaitu pemimpin para nabi dan para utusan. Beliau juga yang diberi risalah oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia tanpa batas waktu.


Bukan hal yang tabu lagi untuk diperbincangkan terkait keistimewaan yang dianugerahkan Allah pada Nabi Muhammad saw.


Bahkan seseorang yang namanya termaktub dalam Al-Qur’an bahwa ia kekal di neraka, siksanya diringankan setiap hari Senin karena ia pernah merasa bahagia akan lahirnya Sang Baginda Nabi saw. Ia adalah paman beliau yang bernama Abu Lahab.


Umat muslim merayakan hari lahir Nabi Muhammad saw. semata-mata demi mengharap syafaat dari beliau kelak di akhirat nanti. Juga sebagai salah satu bukti cinta kepada sang revolusioner dunia tersebut.


Selain itu mereka berlomba-lomba merayakan hari kelahiran sang Nabi yang kerap disebut maulid Nabi karena adanya ayat Al-Qur’an yang berbunyi:


فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ


“…berlomba-lombalah kalian semua (dalam membuat) kebaikan …” (Q.S. al-Baqarah/2:148)


Kendati demikian, terdapat hal yang kurang dipahami terkait tradisi dalam pelaksanaan perayaan maulid Nabi. Seperti contoh di kalangan penduduk Madura yang acap kali merayakan maulid Nabi dengan mewah.


Bukan mewah tidaknya yang menjadi permasalahan dan bukanlah menjadi masalah sekalipun merayakan maulid Nabi dengan konsep mewah. Karena untuk orang yang dicintai pasti apa pun akan dikorbankan dan akan diberikan.


Namun, terkadang seseorang terlalu memaksakan diri untuk merayaan maulid Nabi dengan mewah, padahal ia hanya mampu merayakan dengan sederhana. Hal tersebut tidak diperbolehkan, bahkan Allah pun berfirman dalam Al-Qur`an 64:16 bahwa, “Bertakwalah kalian semua menurut kesanggupanmu…”.


Janganlah melakukan hal yang berada di luar batas kemampuan. Karena Allah pun memerintahkan agar supaya bertakwa sesuai dengan kemampuan atau kesanggupan manusianya masing-masing. Hal itu juga mencakup dalam perayaan maulid Nabi.


Perayaan maulid Nabi bukanlah ajang perlombaan paling unggul ataupun ajang pamer kekayaan. Akan tetapi, perayaan maulid Nabi merupakan salah satu cara menunjukkan bentuk cinta pada sang panutan kehidupan yang sangat di rindukan.


Konsep yang dituangkan dalam perayaan maulid Nabi baik sederhana seperti bersholawat bersama keluarga hingga berkonsep mewah bukanlah hal yang mendasari dari inti perayaan maulid Nabi.


Inti dari perayaan maulid Nabi ialah bentuk pengungkapan rasa syukur pada Allah atas diutusnya Nabi Muhammad sebagai rahmat semesta alam, juga mengharap syafaat kelak di akhirat melalui rasa cinta terhadap Nabi saw.


Jika perayaan maulid Nabi hanya memandang seberapa mewah acara yang digelar, maka hilanglah esensi kesakralan dalam mencintai Nabi Muhammad saw.

0 comments:

Posting Komentar