| freepik |
Aku tidak berani berharap ada seseorang yang akan menawarkan tangannya padaku saat jatuh, mendengungkan kalimat menyejukkan ketika aku runtuh, atau menyajikan setangkai mawar di malam-malam romantis.
Aku tidak berani.
Aku cukup tahu diri untuk merasa cukup atas apa yang kupunya hari ini. Aku tidak akan lagi mengulang kebodohan yang sama, menggantung semuanya pada harap.
Aku jera. Sudah bosan.
Jadi, ketika pria bernama Rama ini berani menawariku sebuah cincin bermata satu di ruang tamu rumah ... aku menjelma patung.
Pria ini kudapati beberapa kali mengamati diriku--atau hanya perasaanku, tak sengaja bertemu, dua kali terjebak di lift, dan kejadian aneh yang sebelumnya tidak kualami.
Aku bukan akan percaya diri kalau Rama mengicarku sejak lama. Bukan. Hanya ... setelah dia membuka cincin di depan para orang tua, bukankah yang selama ini kurasakan adalah nyata?
Aku mengerjap saat ayah menyentuh lenganku. Senyumnya tidak luntur sejak tadi, menunggu keputusanku. Memilih menjulurkan jariku atau mengatupkannya kembali.
Aku, dengan segala pertimbangan singkat dalam otak, entah keyakinan itu juga muncul dari mana, aku menerimanya.
Menerima Rama sebagai pria pertama setelah ayah yang kuizinkan memegang tanganku, menyelipkan cincin di jari manis saat ijab qabul usai.
Ayah mertuaku memimpin doa setelah pertukaran cincin itu. Kami semua khusyuk berdoa. Di sela-sela momen bahagia itu, sempat kulirik Rama yang terpejam larut dalam doanya.
Sekilas kulihat sudut matanya berair, yang secepat kilat diusapnya. Aku semakin menunduk melihat hal itu. Sangat menyentuh dan mengharukan, membuat mataku ikut memanas.
*
Aku menulis cerita ini setelah tiga tahun aku dan Rama menikah kemudian dikaruniai seorang putra.
Aku menutup buku, tersenyum manis mengingat bagaimana pertemuan resmi kami di ruang tamu hingga berlanjut ke pernikahan, dan selang waktu di antaranya.
"Bunda, Bunda! Liat, kataknya loncat!" seru Abi, anak lelakiku. Dia ikut meloncat di belakang katak yang terlihat menghindarinya.
Aku tertawa melihat tangan dan kakinya cemong oleh tanah basah habis hujan semalam. Duduk tenang dari jauh, hanya mengawasinya.
"Abi mana, Yang?"
Aku mendongak, yang langsung dihadiahi kecupan di dahi. Rama tahu-tahu sudah ada di belakangku, memeluk erat.
"Itu, kejar-kejaran sama temennya," tunjukku sambil terkekeh. Abi sudah kehilangan kataknya, masuk ke sela-sela kayu. Dia mengercutkan bibir, kembali ke arah kami sambil tetap melompat.
"Kataknya kabur." Wajahnya berubah sendu, melapor.
"Takut dia. Liat katak yang lebih besar ngejar di belakang."
"Mana ada katak ngejar katak. Ayah aneh, deh," rutuk Abi. Duduk di antara kakiku sambil mengibaskan tangan kotornya.
Rama tertawa. Tidak menanggapi lagi, malah mengacak rambutku dengan dagunya.
Hatiku menghangat. Menikmati kebersamaan ini yang selalu kusyukuri.
Aku tidak pernah berharap mendapat suami yang baik dan pengertian seperti Rama, atau putra yang aktif dan pintar seperti Abimanyu.
Aku tidak berani mengharapkannya. Tidak pernah, karena kecewa lebih menenggelamkanku daripada bahagia.
Namun, hari ini aku mendapatkannya, merasakannya.
Hari ini aku dapat duduk di hangatnya pelukan seseorang yang kucinta, dekap anak kecil yang kami harapkan, kami doakan.
Aku tidak pernah berani berharap semua ini akan terjadi padaku, tetapi jika aku boleh menggantungkan satu harapan lain ... aku ingin kami bisa tetap berpegangan tangan meski waktu akan mengguncang.
Meski takdir tidak lagi sebaik ini ... aku ingin kami masih ada di satu perahu yang sama. Satu rumah yang sama untuk kembali ke perhentian yang sama.
Tempat kembali yang nyaman dan hangat.
Kali ini ... aku ingin berani berharap.
0 comments:
Posting Komentar