Menyikapi Ulama yang “Alamak!”

Menyikapi Ulama yang “Alamak!”
(Unsplash/Mostafa Meraji)


Tanpa dalil pun, yang namanya ilmu wajib untuk kita cari. Apalagi Islam menuntut pemeluknya untuk mencari, maka bagi umat Islam kewajiban mencari semakin tidak bisa terhindarkan.


Dalam mencari ilmu tentunya butuh pada orang yang ahli di bidangnya alias ulama. Ulama ialah setiap orang yang memiliki ilmu: kiai, dosen, ustaz, guru, dan lain sebagainya.


Di antara kewajiban kita terhadap ulama ialah yakin bahwa mereka memiliki keutamaan dan kebaikan selama tidak bertentangan dengan agama. Juga, kita harus husnuzan, hormat, serta tidak mengadu dan membanding-bandingkan dengan yang lain.


Ulama yang "Alamak"


Namun, kadang tanpa sengaja kita melihat dengan jelas sebagian ulama bertindak tidak senonoh yang membuat kita bergumam "alamak!". Lantas bagaimana kita menyikapi?


Dalam hal ini kita wajib berhati-hati dalam bersikap, sebab daging ulama itu beracun. Ibnu Asakir berkata: “Saudaraku, ketahuilan bahwa daging ulama itu beracun.”


Maksudnya, seseorang yang tidak berhati-hati dalam bersikap dan menyebabkan redupnya kehormatan ulama, maka Allah pasti membuatnya terjungkal di dunia maupun di akhirat, sebab ulama adalah pewaris para nabi.


Maka sikap yang tepat ialah ambil ilmunya simpan aibnya, teladani kebaikannya tinggalkan keburukannya. Jangan mencaci, jangan mengumbar, dan jangan menggibah mereka.


Menyikapi Ulama yang Tidak Mengamalkan Ilmu


Misalkan ada ulama yang tidak mengamalkan ilmu, maka ilmunya tetap harus kita terima. Mengamalkan atau tidak bukan urusan kita, tetapi urusan beliau dengan Allah.


Bahwa seseorang berdosa jika tidak mengamalkan ilmunya itu memang benar. Dalam sebuah hadis sahih: "Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, ilmunya untuk apa dia amalkan, hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tubuhnya untuk apa dia gunakan." (HR. Tirmidzi)


Ulama salaf pernah berkata: "Ilmu tanpa amal bak pohon tanpa buah".


Jadi, ulama berdosa jika tidak mengamalkan ilmunya dan itu urusan beliau dengan Allah. Tugas kita hanyalah duduk manut menyimak pelajaran yang beliau sampaikan selama beliau mengajar. Tidak boleh serta-merta kita mencegahnya mengajar meskipun tidak mengamalkan; sebab di samping itu beliau juga sedang mengamalkan perintah agama, yaitu menyebarkan dan mengajarkan ilmu.


Nabi Muhammad bersabda: "Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi, sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan, senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi)


Beliau juga bersabda: "Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya (tidak menjawab), niscaya Allah akan mengekangnya dengan kekangan api neraka pada hari kiamat nanti." (HR. Abu Dawud)


Dua Kewajiban Ulama


Terdapat dua kewajiban seorang ulama: menyebarkan ilmu serta mengamalkannya. Jika salah satunya ditinggalkan, maka beliau berdosa. Jika keduanya ditinggalkan, maka semakin berdosa. Jadi, keduanya adalah dua permasalahan yang berbeda: menyebarkan ilmu; mengamalkan ilmu.


Kendatipun ulama tidak mengamalkan, jangan lantas kita mencegahnya mengajar. Jangan. Beliau juga mempunyai kewajiban menyebarkan ilmu sebagaimana titah agama.


Kita harus adil seadil-adilnya menyikapi kekurangan (baca: aib) ulama, harus berhati-hati. Jangan hanya gara-gara satu kekurangan, kita langsung membuang semuanya dari beliau. Tetap hormati. Ambil baiknya, buang buruknya. Doakan beliau. Senantiasa berharap semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya serta bisa berkumpul bersama di surga.


Kairo, 17 Maret 2022

0 comments:

Posting Komentar