Life Long Learning for Muslimah

Dila Ningrum via unsplash.com

Sebelumnya kita sudah tahu bahwa dahulu jauh kala pra-Islam, hak-hak perempuan bisa dibilang tidak ada. Kehidupannya hanya terpaku pada satu kata 'iya'. Tidak boleh ada penolakan dari seorang perempuan meski hal itu menjatuhkan harga diri dan martabatnya.


Namun, itu semua sudah tidak berlaku lagi setelah adanya agama Islam. Sehingga perempuan terlepas dari kehinaan dan ketidaksetaraan. Perempuan mendapatkan hak dalam hal pernikahan, transaksi, pendidikan, dan mendapatkan warisan.


Kini emansipasi perempuan dalam semua lini telah didapatkan, tetapi mengapa masih ada yang menganggap bahwa pendidikan tidak penting? Bahkan ada yang menganggap hanya buang-buang waktu? Sehingga ada frasa perempuan itu berakhir di rumah, di dapur, dan kasur.


Perempuan dan Pendidikan


Pendidikan bukan hanya sebatas pengetahuan di sekolah. Namun, pendidikan adalah suatu event untuk menciptakan karakteristik seseorang yang baik serta sesuai dengan harapan.


Pendidikan haruslah tertanam sejak usia belia mulai dari lingkungan, keluarga,  terutama ibunya. Tidak bisa dipungkiri jika seorang anak yang masih belia lebih dekat terhadap ibunya. Mereka cenderung bergantung dan selalu membutuhkan ibunya.


Masa-masa belia sangat berpengaruh terhadap karakteristik yang nantinya terbentuk. Mungkin tidak, jika seorang ibu berperan penting di dalamnya? Tentu saja jawabannya "ya".


Peran seorang ibu yang mana adalah seorang wanita sangat penting dalam pendidikan anak, karakter, sifat, dan pengetahuannya. 


"Jika kamu mendidik satu laki-laki maka kamu mendidik satu orang. Namun, jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.” (Mohammad Hatta)


Jadi, pendidikan seorang perempuan tidak bisa terpetakan hanya pada dapur, karena pada nyatanya ada satu generasi yang harus terbentuk sebaik mungkin. 


Pendidikan bagi seorang perempuan bukan semata-mata hanya untuk kepentingan dirinya, tetapi ada anak yang berhak mendapatkan pendidikan yang layak, ada suami yang menjadikannya partner, dan ada keuangan yang harus bisa diatur dan lain sebagainya.


Tentu semuanya butuh ilmu, karena banyaknya peran bukan hal yang mudah jika hanya berpatokan pada kebiasaan tanpa pengetahuan. Pendidikan akan menjadikan wanita kuat, cerdas, dan bijaksana serta mampu mengendalikan semuanya.


Hakikat Ilmu bagi Perempuan


Pada hakikatnya mencari ilmu itu wajib bagi laki-laki, atau perempuan. Seperti sabda Nabi Shallaallahu 'alaihi Wasallam:

طلب العلم فرضة على كل مسلم ومسلمة

"Menuntut ilmu itu suatu kewajiban bagi seorang laki-laki dan perempuan."


Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, keduanya memiliki hak yang sama dalam mencari ilmu. Namun, tetap dengan kodrat dan kebutuhan masing-masing.


Setelah Nabi menikahi Sayyidatuna Hafshah binti Umar, beliau tetap mendatangkan pengajar untuk Hafshah guna mengajarkan ilmu-ilmu yang lain, kemudian Sayyidina Umar berkata, "dia (Hafshah) telah belajar." 


Kemudian Nabi bersabda, "agar dia membuat Hafshah bertajwid dan menjadi baik."


Jadi, pendidikan bagi perempuan tidak berhenti karena pernikahan. Seorang perempuan memang wajib mencari ilmu terlebih dalam ilmu naw'iy, yakni ilmu yang sesuai dengan kepentingan hidup yang mereka jalani.


Selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencari ilmu juga sangat penting sebab peran istri dan ibu serta tanggung jawab untuk seorang anak yang nantinya akan ia lahirkan.


Semua butuh ilmu, semua butuh pengetahuan. Siapa saja berhak mendapatkannya entah itu laki-laki, atau perempuan karena ada peran yang harus terjalani sebaik mungkin.


Editor: Imamatun Nisa dan Alfiyah RA

0 comments:

Posting Komentar