Rinduku Sederas Hujan Sore Itu (Sebuah Resensi)

alfiyahrizzya 


Judul: Rinduku Sederas Hujan Sore Itu

Penulis: J.S. Khairen

Penerbit: Noura Books

Tahun Terbit: 2019

Jumlah Halaman: 265

Rating Goodreads: 4.22/5

 

Aku selalu menantikan aroma antara hujan dan tanah yang kering. Karena di antaranya, ada ketenangan yang mampu menjernihkan pikiran. (hal. 168)


Rinduku Sederas Hujan Sore Itu merupakan kumpulan cerita pendek dan puisi yang seluruhnya memiliki tema besar hujan. Di halaman pembuka, saya tersentuh karena penulis mempersembahkan buku ini untuk almarhum adiknya yang meninggal setelah hujan.


Kemudian, penulis juga menitikberatkan bahwa segala peristiwa di muka bumi ini hanyalah perjalanan duniawi yang tak sempurna. Ada ironi di setiap kebahagiaan. Ada pelajaran di setiap kekelaman. (hal. iv)


Selama ini saya bukan termasuk pecinta bacaan kumcer (kumpulan cerpen). Tetapi Rinduku Sederas Hujan Itu benar-benar berbeda. Buku ini seakan meluluhlantakkan ego saya yang sangat pemilih dalam menentukan bacaan.


Sejak dahulu saya memang tak begitu suka kisah cinta yang menye-menye. Bukannya meremehkan, bukan, hanya tidak suka saja, dan buku ini sangat cocok dibaca jika Anda tipe pembaca yang mirip saya.


Ada 29 tulisan, termasuk cerpen dan puisi. Semuanya mengena, karena ada sentuhan jiwa dewasa di dalamnya. Tak hanya romansa, ada kisah yang mengangkat realita sosial, cerita fabel si kucing, dan juga ada cerita fiksi metaverse.


Walau sangat menyukai suara hujan dan aromanya, saya sendiri tidak punya kenangan khusus tentang hujan. Namun, lewat buku ini saya tak hanya bertambah cinta dengan hujan, tapi juga bisa membantu saya untuk lebih merefleksikan diri dengan kehidupan. Terima kasih Bang J.S Khairan.


Sebatang Kara


Bulan lalu, saya sempat membaca tentang salah satu tokoh sejarah asli Minangkabau. Dalam buku ini, salah satu chapter-nya juga membahas perihal Minangkabau, tepatnya cerita seorang anak sebatang kara dan kehilangan seluruh keluarga intinya saat gempa Padang, Sumatera Barat, 2009 silam.


Kisah Saiful dengan tajuk Sebatang Kara yang merindu mendiang keluarga begitu menyayat hati. Rindunya mungkin tak terbalas secara zahir, tetapi tetap ia lakukan karena cinta pada keluarganya yang tak pernah pudar. Kisah itu ditutup dengan kenangan akan keluarganya berikut pahlawan-pahlawan kemerdekaan Indonesia asal Minangkabau yang begitu membanggakan.


Setiap chapter membawa pelajarannya sendiri. Baik kisah senang, sedih, haru, suram, semuanya hanya bagian perputaran dunia yang tak sempurna. Tetapi, selalu ada kisah cinta yang sempurna, dari insan yang mempunyai ketulusan paripurna.


Cukup spoiler di chapter ini, ya. Sisanya silakan baca sendiri sembari menikmati hujan di bulan Februari.


Editor: Hafidatul Millah 

0 comments:

Posting Komentar