Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna (Sebuah Resensi)

Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna (Sebuah Resensi) by fida_millah

 

Identitas buku

Judul: Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna

Pengarang: Najelaa Shihab

Penerbit: Literati

Tahun terbit: 2020 (cetakan ke-2)

Ukuran: 160 halaman, 19 cm

ISBN: 978-602-8740-76-0

Rating Goodreads: 3,93/5

Rating Peresensi: 4.2/5

 

Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna, sebuah buku yang berdasarkan refleksi dan observasi dalam berbagai aspek yang perempuan hadapi.


Berbagai hambatan, bahkan celaan, masih menjadi bagian dari keluhan harian yang kita alami dari lingkungan. Sebagai perempuan, membuat pilihan memang sering kali menjadi hambatan (halaman 64).

 

Buku ini cocok untuk perempuan yang memiliki kecemasan, yang berusaha menemukan kebahagiaan, menumbuhkan percaya diri untuk melangkah menghadapi kenyataan dunia, mengajak perempuan untuk tidak mau terbatasi dan terkotakkan oleh ekspektasi orang lain.


Pada hakikatnya kita tidak akan pernah bisa untuk membahagiakan semua orang. Buku ini bisa menjadi “tamparan” bagi yang suka mencibir, merendahkan dan untuk kita yang mau belajar bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan dengan baik.

 

Terdapat 17 chapter di dalamnya, yang membahas berbagai stigma terhadap perempuan. Perempuan yang selalu serba salah soal pilihan hidup: bekerja atau tidak bekerja, memilih menikah di umur berapa, bahkan memilih bahagia dengan melajang, perempuan versus perempuan, kepintaran versus 'kepinteran', mencari jalan pintas untuk bahagia, menjadi anak, ibu sekaligus menantu dan istri, sampai tentang perempuan dengan tubuhnya.

 

Setiap chapter dalam buku ini mengajak kita untuk refleksi bukan menggurui. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri, mengapresiasi diri dengan penuh cinta, saling menghargai, saling mendukung setiap pilihan meski terkadang berbeda, dan memiliki cerita yang tak sempurna, karena tak jarang kita jumpai yang menjatuhkan perempuan adalah perempuannya sendiri.


Perempuan versus Perempuan


Faktanya perempuan sering kali menjadi perundungan, mulai dari cara berpakaian, make up, dan bentuk badan. Cara mendidik anak, memberi ASI, bahkan soal pekerjaan kerap kali menjadi bisikan dan perbandingan antara perempuan yang satu dengan lainnya. Keberhasilan dalam bidang apa pun sering kali mendapat justifikasi sebagai saingan laki-laki.


Dengan buku ini, Mba Elaa (panggilan akrab Najelaa Shihab) mengajak kita agar berhenti untuk saling membandingkan. Agresi "yang tanpa sengaja" kita lakukan, perlu kita ganti dengan afirmasi berarti bagi perempuan (halaman 18).


Perlu kita ingat bahwa keberhasilan perempuan akan lebih besar jika mendapatkan dukungan dan apresiasi dengan penuh cinta.


Sendirian, (namun) Tidak kesepian


Perempuan tanpa pasangan tetap menjadi bagian dari keluarga yang sempurna walau struktur mungkin berbeda dari kebanyakan kita. Tanpa pasangan tidak menghapus keberhasilan lain yang sudah diraih perempuan (halaman 25).

 

Soal pernikahan sering kali menjadi pertanyaan. Padahal soal waktu kapan mau menikah, menikah di usia berapa bukanlah sebuah kompetisi. 17 % Perempuan yang berusia di atas 25 tahun belum menikah, hal tersebut tidak perlu kita sembunyikan dan tidak perlu pula menjadi bahan ledekan.


Menikah atau tidak menikah tak seharusnya sepi dan tak seharusnya menjadi hambatan mengejar mimpi.


Refleksi ini untuk semua perempuan di sekitar saya yang pemberani. Walau (masih) sendiri, hidup tidak seharusnya sepi. Selama kita selalu mencintai diri sendiri dan dikelilingi sahabat sejati. (halaman 26).


Kepintaran dan 'Kepinteran'


Pernah gak kita menjadi korban perundungan (bully)? Banyak sekali cerita dari teman-teman yang kerap dapat cibiran, misalkan "gak usah terlalu pintar nanti gak ada yang mau. Tidak usah sekolah terlalu tinggi nanti laki-laki akan minder untuk melamar".


Masih banyak perempuan yang memandang kepintaran dengan penuh kecemasan. Data berbagai penelitian menunjukkan halangan pendidikan dan tantangan pekerjaan semakin menurun, sementara prestasi dan kontribusi perempuan semakin meningkat dari tahun ke tahun (halaman 79).


Alih-alih mengapresiasi terhadap keberhasilan perempuan, nyatanya sering kali kepintaran seorang perempuan dianggap karakter yang berlawanan dengan keperempuanan.


Secara umum, buku ini menarik dan lengkap dengan ilustrasi, sehingga tidak membosankan, serta terdapat quotes yang menjadikan alarm, agar kita lebih mencintai setiap keputusan yang kita ambil, peran yang kita jalani, berani melangkah untuk tumbuh lebih baik, lebih maju, dan merajut cinta dengan baik terhadap sesama.


Editor: Alfiyah RA

0 comments:

Posting Komentar