Jika Perempuan Selalu Benar, Lantas Mengapa Mereka Kerap Salah dalam Memilih Pasangan?

Jika Perempuan Selalu Benar, Lantas Mengapa Mereka Kerap Salah dalam Memilih Pasangan?
Unsplash/Mhrezaa


Stigma bahwa perempuan selalu benar agaknya telah dianggap hal yang wajar. Bahkan ada yang memandangnya sebagai guyonan dan jalan ninja untuk memutus argumentasi yang telah susah payah para perempuan bangun dalam mempertahankan pemikirannya.


Jika kita melihat dua orang, lekaki dan perempuan sedang berdebat cukup sengit, ujung-ujungnya yang keluar hanya, ‘perempuan memang selalu benar’. Lantas, apakah perempuan selalu benar? 


Saya akan mencoba memulai dari kisah salah seorang teman saya yang cukup sering curhat tentang pasangannya yang selingkuh berkali-kali. Anehnya, sebanyak apa pun pendapat, nasihat, bahkan mantra yang saya berikan tetap saja dia akan kembali dengan pacarnya itu. Setelah pacarnya selingkuh lagi, dia akan curhat pada saya. Begitu terus berulang-ulang sampai saya bosan. 


Ada pula yang tetap bertahan dengan hubungan toxic, karena percaya jika suatu saat pasangannya akan berubah menjadi lebih baik. Tentu saja, sebagaimana yang kita prediksi, tidak ada perubahan sama sekali.


Perempuan semacam ini akan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, karena terlalu mengandalkan intuisinya. Sampai di sini saya akan bertanya lagi, apakah perempuan memang selalu benar?


Perempuan Selalu Benar


Ungkapan ‘perempuan selalu benar’ menurut saya adalah bentuk seksis dan sindiran halus bagi perempuan. Seakan segala analisis argumentasi yang ada, pada akhirnya akan menang hanya karena sifat egois kaum perempuan yang tidak pernah mau mengalah. 


Perkataan ini menutup ruang diskusi. Sepertinya percuma berbicara panjang lebar dengan perempuan jika akhirnya mereka hanya mengandalkan perasaan dan menuntut laki-laki untuk mengerti dan lebih baik mengalah saja.


‘Perempuan selalu benar’ seolah-olah menjadi tepuk tangan yang menyesatkan dan menertawakan perempuan sebagai badut yang melakukan kebodohan-kebodohan, tetapi tetap ingin selalu menang.


Penempatan perempuan pada posisi superior ‘selalu benar’ sangat kontradiksi dengan fakta di lapangan, ketika perempuan sering disalahkan atas pemikiran dan tindakannya.


Seorang perempuan yang lebih mementingkan pendidikannya dan menunda pernikahan, atau seorang istri yang menunda untuk memiliki anak, perempuan korban pelecehan seksual dan pemerkosaan, maupun perempuan dengan banyak teman laki-laki, akan menganggap mereka sebagai pemberontak dan menjadi pusat kesalahan serta gunjingan. Apakah ini maksud dari ‘selalu benar’?


Kesalahan Perempuan dalam Memiliki Pasangan


Perempuan sering kali mendapatkan konotasi sebagai makhluk emosional yang entah dengan dasar apa, mereka selalu percaya bahwa intuisi dan perasaannya tidak akan keliru. Sebab inilah, tidak sedikit dari perempuan yang terlibat dalam hubungan yang tidak sehat.


Hal tersebut terjadi karena perempuan merasa mampu mengubah pasangannya menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka percaya, suatu saat pasangannya akan berubah menjadi ideal, mungkin ketika sudah tua nanti.


Rasa takut untuk hidup sendirian dan kesepian juga membuat perempuan tidak bergeming dari pasangannya, meskipun tidak merasa bahagia. Selain itu, sebagian perempuan terlalu mengagungkan fisik dan meteri, sehingga ia lupa memprioritaskan kepribadian dan sifat dari pria yang ia pilih. 


Sehingga, tidak jarang terjadi kasus kekerasan, pelecehan, bahkan perselingkuhan yang telah menjadi hal yang lumrah. Posisi perempuan di sini tidak hanya sebagai korban, bahkan perempuan dianggap sebagai akar masalah


Perempuan yang tidak mampu mengurus diri dan pasangannya, berpakaian terbuka, dan sejenisnya. Hampir semua tindakan dan pemikiran perempuan menjadi hal yang keliru.


Saya jadi bingung, ungkapan ‘selalu benar’ itu benarnya di mana?


Editor: Hafidatul Millah

0 comments:

Posting Komentar