5 Keunikan Linguistik Bahasa Madura

Twitter @ahmadnbl


Awal mula saya mengenal variasi bahasa Madura terjadi pada tingkat Tsanawiyah. Kala itu saya pertama kali meninggalkan rumah dan bermukim di tempat baru yang jaraknya cukup jauh sehingga terkadang merasa asing dengan bahasa-bahasa yang ada.


Hal itu membuat saya sesekali berpikir panjang untuk paham dengan bahasa-bahasa yang digunakan. Saya merasa bahwa bahasa saya berbeda dan tak jarang diketawain oleh teman-teman Madura lainnya.


Awalnya saya agak malu, dan bertanya-tanya kenapa ada banyak kosakata yang berbeda padahal sama-sama bahasa Madura.


Setelah masuk ke bangku kuliah dan mengambil jurusan Bahasa dan Sastra, di situlah saya mulai belajar dan pelan-pelan memahami hingga akhirnya saya jatuh cinta pada bahasa.


Terlebih mata kuliah linguistik sangat relate dengan pertanyaan yang muncul saat zaman Tsanawiyah yang mana akhirnya terjawab.


Setelah mempelajari linguistik, ternyata bahasa Madura juga memiliki berbagai variasi, mulai dari fonologi, morfologi, semantik bahkan secara sintaksisnya.


Sejak itu saya mulai sadar akan kekayaan bahasa yang ada di Indonesia khususnya bahasa ibu, yakni bahasa Madura yang banyak akan variasi dan keunikan. 


1. Keunikan Dialek Bahasa Madura


Menurut Prof. Dr. Akhmad Sofyan, M. Hum, dosen Fakultas Sastra UNEJ, keunikan bahasa Madura bisa dilihat dari dialeknya.


Bahasa Madura memiliki 4 dialek yakni dialek Sumenep, dialek Pamekasan, dialek Sampang dan dialek Bangkalan.


Misalkan pada penyebutan kata bagaimana, orang Sumenep menggunakan kata beremma, sedangkan daerah Pamekasan menggunakan kata deremma. Dalam 2 daerah tersebut memiliki perbedaan dalam penggunaan fonem. Daerah Sumenep menggunakan fonem B sedangkan daerah Pamekasan menggunakan D.


Untuk kamu ketahui, fonem merupakan satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna.


Pada kata tanyedde digunakan oleh masyarakat Sumenep, tangedde digunakan oleh orang Pamekesan, perbedaannya hanya pada “g dan y” artinya sama-sama ketiduran.


Begitu dalam segi semantiknya, beberapa daerah memiliki perbedaan.  Seperti pada kata “mangan”, masyarakat Sumenep menerjemahkan kata “mangan” nakal.


Sedangkan masyarakat Pamekasan menerjemahkan kata mangan = cocok. Misalkan, aku cocok menggunakan produk wardah = engkok mangan ngangguy wardah.


2. Keunikan Tingkat Bahasa


Bahasa Madura juga memiliki tingkat bahasa seperti halnya bahasa Jawa. Bahasa Madura memiliki 3 tingkat.


Yang pertama bahasa ngoko atau bhesa lomra (enjek-iye). Biasanya digunakan dengan sesama kawan sebaya, orang yang akrab, orang tua ke anak, ke keponakan, dan kepada orang akrab lainnya.


Juga sering digunakan oleh priyai ke orang kebanyakan (rakyat/orang biasa) misalnya pada kata mole: Pulang. Bekna bile se mole deri romana pamanna? = kamu kapan pulang dari rumah pamannya?


Yang kedua madya, tingkat bahasa menengah (enggi-enten) Bahasa menengah banyak digunakan oleh anak pedesaan dengan kawan sebayanya, mertua ke menantunya. Tidak banyak orang yang menggunakan tingkat menengah, hampir di beberapa daerah bahasa ini hanya digunakan oleh orang yang sudah tua. 


Yang ketiga bahasa halus tinggi (enggi-bunten). Bhasa alos digunakan kepada orang yang baru kenal, baik yang lebih mudah ataupun lebih tua.


Digunakan kepada orang yang lebih dewasa, digunakan anak kepada orang tuanya atau kepada orang yang lebih tua, digunakan ketika acara formal, misalkan pada musyawarah atau lainnya. Contoh: Sampean dari kaemma?/ kamu dari mana?


3. Keunikan Segi Pengulangan Kata


Selanjutnya keunikan bahasa Madura ditinjau dari segi pengulangan kata. Berikut di antara kata yang diulang: kata beghibe = berasal dari kata ghibe, bersabber berasal dari kata sabbar. Lemole berasal dari kata mole, der bender berasal dari kata bender, begibeh berasal dari kata gibe.


Jika ditinjau dari segi linguistik ada banyak kata yang mendapatkan tambahan di depan atau disebut dengan prefik. Gibe menjadi begibe.


4. Keunikan Pola Suku Kata


Menurut Prof. Sofyan pola suku kata Bahasa Madura banyak ditemui adanya bunyi kembar, atau geminasi antara fonem akhir suku sebelumnya dengan fonem awal suku sesudahnya. 


Hampir semua dalam bahasa Madura mengandung geminasi, baik pada bentuk kata dasar maupun yang terjadi karena sufiksasi. Seperti pada abjad b, c dan d. dilafalkan menjadi ebbe, ecce dan edde. Seperti pada kata kemma, lagguna, damman dan masih banyak kata lainnya.


Untuk kamu ketahui, geminasi adalah pemanjangan fonem.


5. Keunikan Ritme


Di daerah Sumenep menggunakan ritme yang panjang tidak menyingkat fonem, seperti pada kata “saronin”. Berbeda dengan daerah Pamekasan yang menghilangkan satu fonem yang berupa huruf vocal yang ada di awal, saronin menjadi sronin. Daerah Bangkalan menggunakan ritme yang lebih cepat lagi dibandingkan daerah Pamekasan. 


Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran akan kekayaan bahasa Madura, dengan berbagai keunikannya, dan dapat memicu para etnis Madura atau penutur bahasa Madura agar tetap merawat dan menjaga kelestariannya, sehingga tidak punah oleh waktu.

0 comments:

Posting Komentar