Kebahagiaan Sejati Tak Pernah Lepas dari Kebaikan

 

Ricardo Gomez/Unsplash


 شَهِرَتْ أَعْيِنٌ، وَنَامَتْ عُيُوْن * فِيْ أمُوْرٍ تَكُوْنُ أًوْلَا تَكُوْنُ

فَإِدْرَ إلْهَمَّ مَا اِسْتَطَعْتُ عَنْ النَّفْسِ * فَحِمْلَانُكَ الْهُمُوْمَ جُنُوْنِ

إِنَّ رَبًّا كَفَاكَ بِالْأَمْسِ مَاكَانَ * سَيَكْفِيْكَ فِيْ غَدٍ مَا يَكُونُ (الإمام الشّافعي)


Pada waktu malam hari, ada yang tertidur, dan ada pula yang terjaga. **

Sembari memikirkan hal-hal yang terjadi ataupun tidak.


Hilangkanlah kesusahan hati sesuai dengan kemampuanmu. **

Sebab, jika kamu selalu susah, mungkin kamu bisa gila.


Tuhan telah menanggung segala kebutuhanmu yang telah lalu. **

Dia pun juga akan menanggung segala kebutuhanmu yang akan datang.


Manusia memang tidak akan pernah terlepas dari keinginan untuk selalu merasa bahagia dalam hidupnya. Apa pun akan mereka lakukan untuk selalu merasa bahagia selama ia hidup. Bahkan tanpa berpikir panjang manusia rela melakukan hal buruk sekalipun untuk meraih kebahagiaan.


Lantas jika memang demikian, apa sebenarnya hakikat bahagia? Apakah bahagia itu merupakan hal baik atau malah sebaliknya?


Dalam hal ini, para filsuf  dan cendekiawan agama turut andil dalam mendefinisikan sebuah kebahagiaan. Namun, walau demikian dapat dipastikan bahwa, tolak ukur kebahagiaan memanglah sangat sulit diketahui dan dirasakan. Malahan semakin kita mencari hakikat kebahagian membuat hidup kita semakin absurd.


Bahkan ketika kita menerapkan gagasan seorang filsuf Rene Descartes dalam mempertanyakan segala hal, semakin membuat kita semakin tidak bisa tenang. Termasuk mempertanyakan kebahagiaan.


Kebahagiaan memiliki berbagai perspektif terkait makna dan penggunaannya. Dalam hal ini, Imam Gazali berpendapat bahwa hakikat kebahagiaan tidak dapat kita temukan di dunia, melainkan hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya dapat kita rasakan di akhirat.


Menurut beliau kebahagiaan dunia hanya bersifat metaforis. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kebahagiaan ukhrawi (akhirat) tidak dapat kita capai tanpa melalui duniawi. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan di dunia hanyalah sebagai perantara untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.


Penyebab Sulit Bahagia


Imam Gazali juga menjelaskan bahwa kebahagiaan dapat kita temukan ketika kita sudah mengenali dan memahami diri kita sendiri. Sebagaimana ungkapan sufi terkenal Yahya bin Muadz ar Razi;


من عرف نفسه فقد عرف ربه


“Barang siapa yang yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya”.


Dengan demikian, ketika kita sudah mengenal diri kita, kita mampu membedakan antara kebahagiaan yang sesungguhnya dan kebahagiaan yang hanya besifat metaforis.


Lantas, selama ini kita masih saja terus dibuat pusing oleh upaya mencari makna kebahagian sesuai perspektif kita sendiri. Bahkan lebih parah jika kebahagiaan itu selalu disamakan dan dibanding-bandingkan dengan kebahagiaan perspektif orang lain.


Selain sulit mengenali diri sendiri, berikut hal-hal yang membuat orang lain sulit untuk bahagia:


Selalu Membanding-Bandingkan Hidup dengan Orang Lain


Tidak adil rasanya ketika kita selalu membanding-bandingkan cerita hidup kita dengan kehidupan orang lain. Hal ini dapat membuat kita selalu saja merasa gagal ketika kita tidak bisa mencapai apa yang telah orang lain capai


Apalagi saat ini media informasi yang semakin canggih dapat membuat kita dengan mudahnya mengetahui informasi pencapaian orang lain. Rasa syukur pun tidak terlintas dalam benak ketika kita selalu membanding-bandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain.


Akibatnya, kita selalu dibuat sumpek dengan hal-hal yang tidak penting dengan selalu membanding-bandingkan pencapaian kita dengan pencapaian orang lain. Rasa Bahagia sulit untuk kita rasakan.


Adil itu ketika kita membandingkan diri kita hari ini dengan diri kita di masa lalu, apakah kita semakin baik atau malah sebaliknya.


Memiliki Ekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Orang Lain


Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa berharap lebih terhadap orang lain itu tidaklah baik. Begitupun ekspektasi kita yang terlalu berlebihan juga dapat membuat kita sulit untuk bahagia. Upayakan menakar segala sesuatu sesuai porsinya.


Terlepas dari itu dalam agama sudah dikatakan bahwa berharap kepada selain Tuhan itu hanya menyisakan kekecewaan.


Asal Bertindak tanpa Memikirkan Risiko


Bertindak gegabah juga menjadi penyebab kebahagian sulit kita rasakan. Ketika kita bertindak gegabah, hal itu dapat menyebabkan kita selalu terjerembap dalam muara penyesalan.


Tidak hanya itu, kita pun akan selalu menyalahkan diri kita sendiri. Dalm hal ini penting bagi kita untuk selalu melakukan analisis risiko terhadap suatu tindakan yang akan kita lakukan, supaya dapat meminimalisir risiko yang didapat.


Marcus Aurelius mengatakan, “Jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu sendiri dan kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan perepsimu kapan pun juga”.


Konsep filosofi teras tersebut dapat kita simpulkan bahwa segala hal dan peristiwa yang terjadi dalam hidup ini tidak lain hanya tentang persepsi. Baik itu persepsi kita sendiri atau orang lain. Bagaimana cara kita memaknai kebahagian juga ada pada diri kita masing-masing.


Baik dan buruknya kita dalam memaknai juga ada pada diri kita masing-masing. Upayakan pengenalan diri sendiri terus dilakukan, dengannya kita dapat menemukan hakikat kebahagian. Tanamkan juga keyakinan bahwa Tuhan menciptakan kita di dunia ini untuk bahagia bukan sebaliknya.

0 comments:

Posting Komentar