Bullying Bukan Candaan yang Menghasilkan Tawa, tetapi Menyisakan Luka

iStock


Salah satu hal negatif yang sering terjadi yaitu bullying. Bullying bisa terjadi pada anak usia dini, remaja, orang dewasa, bahkan orang tua.


Dalam keluarga terkadang secara tidak sadar terjadi sebuah perundungan (bullying). Begitu juga di sekolah dan di media sosial.


Salah satu bentuk nyata bullying saat orang tua mengunggah foto di media sosial terkadang mendapatkan komentar yang tidak enak. Hal ini sering terjadi pada kalangan artis.


Di kolom komentar media sosial artis sering dibanjiri oleh bullyan. Misalnya: Ehhh hidungnya kok pesek, kulitnya kok hitam gak kayak ibunya dan lain sebagainya.


Apa itu bullying?


Bullying merupakan suatu tindakan yang tidak menyenangkan yang dilakukan dengan sengaja oleh salah satu orang atau suatu kelompok sehingga merugikan orang lain.


Perilaku agresi ini dapat dilakukan berulang kali dan menimbulkan masalah yang serius pada korban.


Bullying terdapat beberapa jenis, di antaranya:


  • Perundingan fisik, penindasan yang dilakukan dengan melibatkan fisik, seperti melukai tubuh seseorang.
  • Perundungan verbal intimidasi yang dilakukan dengan melibatkan kata-kata, baik secara tertulis ataupun terucap.  Seperti memanggil nama dengan sebutan yang tidak pantas.
  • Perundungan sosial, penindasan yang mengakibatkan rusaknya sebuah hubungan, seperti berbohong, menyebarkan rumor negatif.
  • Perundingan di dunia maya, seperti menyebarkan video yang tidak pantas. Menyebar gosip secara online.
  • Perundungan secara seksual intimidasi seksual yang termasuk nama seksual, atau cat-calling, gerakan vulgar lain sebagainya.  


Apakah bullying akan menimbulkan rasa trauma?


Menurut Irma Gustiana Andriani seorang psikolog dan founder Ruang Tumbuh korban bullying berpotensi untuk memiliki trauma.


Dampak psikisnya sangat jelas. Sekecil apa pun bentuk bully-an, akan membuat tidak nyaman, ketakutan, apalagi konteksnya di otak lebih mudah mengingat memori tidak nyaman.


Namun, trauma itu sifatnya personal, tergantung dia yang menyikapinya. Bagi si A dia akan lebih semangat untuk menjadi lebih baik ketika mendapatkan bully-an. Sementara bagi sebagian yang lainnya akan terpuruk.


Orang yang menjadi pelaku bullying secara mental dia termasuk orang yang bermasalah. Ia bukan happy people, dan secara mental dia kurang baik.


Cara Mengatasi Trauma Korban Bullying


Masalah trauma yang disebabakan oleh bullying tentunya memiliki dampak dan butuh penanganan.


Berikut merupakan beberapa tips menyembuhkan rasa trauma akibat bullying:

  • Korban bullying yang mengalami trauma harus mendapatkan dukungan. Korban sebaiknya bercerita kepada orang yang tepat, yang sekiranya aman dan membuat dia nyamann.
  • Jika ada luka emosional yang memang membutuhkan pendampingan secara psikis segeralah ke psikolog.
  • Meng-upgrade diri, berusaha untuk bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu untuk lebih baik.


Agar Dijauhkan dari Perilaku Bullying


Ketika kita menemui perilaku bullying atau berpotensi untuk menjadi pelaku bullying bisa melakukan hal di bawah ini:


  • Melaporkan kepada berwajib, tujuannya untuk memberi rasa aman kepada korban, dan memberikan efek jerah kepada pelaku.
  • Keluarga harus memberikan bimbingan, contoh yang baik terhadap anak agar dijauhkan dari perilaku tidak menyenangkan, serta merugikan orang lain.
  • Sekolah juga memiliki peranan penting untuk perilaku anak, seperti edukasi agar bagaimana anak didiknya tidak menjadi pelaku bullying.
  • Pelaku bullying juga membutuhkan dampingan psikolog dan lembaga-lembaga yang lain untuk mencegah perilaku jahat bullying.
  • Tiap individu harus mengupayakan untuk memutuskan rantai perilaku bullying tidak cukup hanya satu orang yang bersuara.


Itulah pembahasan tentang bullying. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk menyembuhkan luka, rasa trauma karena menjadi korban dari bullying, atau menjadi renungan untuk menghentikan perilaku jahat bagi yang pernah menjadi pelaku bullying.

0 comments:

Posting Komentar