Meski belum Dikabulkan, Jangan Mempertanyakan Doa

Maria Teneva via Unsplash


Pernahkah kamu bertanya-tanya tentang doa yang tak kunjung terkabulkan? Padahal kamu sudah rajin berdoa sembari bertahajud bahkan hingga sedekah dan lainnya.


Tahukah kamu, di dalam Islam sikap tersebut dilarang?


Alasan sikap di atas dilarang karena merupakan bentuk dari memprotes doa. Memprotes doa dan menuntut Tuhan sangat jauh dari hakikat doa itu sendiri.


Pada dasarnya doa adalah bentuk penyerahan. Tentunya hal tersebut tidak pantas jika dibarengi dengan sikap protes apabila tak kunjung dikabulkan.

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. Al-Baqoroh: 186)


Syarat Doa Dikabulkan Beserta Adabnya


Adab berdoa adalah memohon kepada Allah dengan yakin tanpa melakukan yasta’jil.


Sikap memprotes doa atau yang juga disebut dengan yasta’jil merupakan sikap yang seakan-akan mempertanyakan firman Allah Swt. sebagaimana firman-Nya pada surat Ghafir ayat 60:


ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ


Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian.


Adapun sikap yasta’jil merupakan sikap yang buruk. Baginda Nabi Muhammad saw. sampai menyebutkan doanya orang yasta’jil tidak akan dikabulkan.


Di bawah ini hadis yang menggambarkan sikap yasta’jil:


ما مِن رجلٍ يَدعو اللَّهَ بدعاءٍ إلَّا استُجيبَ لَهُ ، فإمَّا أن يعجَّلَ له في الدُّنيا ، وإمَّا أن يُدَّخرَ لَهُ في الآخرةِ ، وإمَّا أن يُكَفَّرَ عنهُ من ذنوبِهِ بقدرِ ما دعا ، ما لم يَدعُ بإثمٍ أو قَطيعةِ رحمٍ أو يستعجِلْ . قالوا : يا رسولَ اللَّهِ وَكَيفَ يستَعجلُ ؟ قالَ : يقولُ : دعوتُ ربِّي فما استجابَ لي

الراوي : أبو هريرة | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح الترمذي


Tidaklah seseorang memohon kepada Allah dengan berdoa melainkan akan dijawab doanya tersebut. Bisa jadi Allah segerakan (kabulkan) doanya di dunia. Bisa jadi pula doanya itu akan disimpan baginya di akhirat. Bisa juga Allah hapus dosa-dosanya sesuai kadar doanya itu. Selama orang tersebut tidak berdoa dengan dosa atau memutus silaturahim atau yasta’jil. Mereka bertanya’ Wahai Rasulullah bagaimana yasta’jil itu? Rasul menjawab: dia berkata, “aku sudah berdoa pada Tuhan-Ku tapi tidak juga dijawab.”


Cara Berdoa yang Baik


Berdoalah seyakin-yakinnya dengan diiringi ikhtiar yang baik. Menghindari maksiat dan taat kepada Allah juga bagian dari ikhtiar.


ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ


Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Turmidzi dan Hakim (Al-Jami’ As-Shoghir, hal. 15)


Selanjutnya adalah berusaha memantaskan diri agar doa yang dipanjatkan bisa terkabul. Cara memantaskan diri tersebut bisa mengambil dari tiga klasifikasi di bawah ini.


Ada tiga klasifikasi doa (permohonan) yang dikabulkan oleh Allah Swt.


Yang berhubungan dengan hamba-hamba-Nya meliputi:


  • Doa para nabi dan para rasul (mereka yang memiliki irhash dan mukjizat)
  • Doa para wali-wali Allah Swt. (mereka yang memiliki karomah)
  • Doa orang-orang sholih (mereka yang memiliki ma’unah)
  • Doa seorang ibu terhadap anak-anaknya.

   

    Yang berhubungan dengan tempat:

  • Di sekitar Ka’bah, Masjidil Haram (Multazam, Maqom Ibrahim, Hijir Ismail, dan Rukun Yamani).
  • Raudhah, Masjid An-Nabawi, Madinah.
  • Tempat semedi (pertapan) para wali Allah.


    Yang berhubungan dengan waktu:

  •     Sepertiga malam akhir, hampir menjelang shubuh.
  •     Usai sholat maktubah.
  •     Di antara azan dan iqomah.
  •     Sewaktu dianiaya orang zalim.


Jadi, sudah sejauh mana ketulusan kita dalam berdoa? Alih-alih memprotes Tuhan, mengapa tidak memprotes diri sendiri? Bisa saja alasan doa tidak terkabulkan karena terlalu banyak maksiat yang dilakukan sehingga menghalangi doa itu sendiri.

 

Tulisan ini merupakan nasihat yang disampaikan Abi penulis.

Bangkalan, 26 Muharrom 1444 H.

0 comments:

Posting Komentar