Kita Adalah Benih yang Sedang Tumbuh, Jadi Jangan Paksa Mekar Hari Ini

Unsplash/Alisa Anton


Lima tahun berlalu ketika aku lulus, dan 7 tahun telah usai sampai hari ini. Di tahun lalu, Ken, aku masih menatap kegagalan itu dengan enteng dan dengan mudahnya bisa kulalui. Namun, di tahun ke-6, kegagalan itu terasa sangat berat dan mengoyakku hingga benar-benar tak berdaya.


Tempo hari, ketika aku mendeklarasikan diri menang atas diriku sendiri, maka pengulangan ujian itu kembali kuterima lagi dalam skala yang lebih besar daripada sebelumnya. Aku sadar kalau ini bukan hanya sekadar “ujian” saja, Ken, tapi ini adalah waktu yang kubutuhkan untuk membuat diriku berkembang.


Walau sudah puluhan kali kulatih cara menulisku, aku masih belum bisa menembus penerbit mayor, seperti yang kukatakan sebelumnya. Kabar baiknya, barangkali Tuhan tengah membimbingku menuju versi yang lebih baik dengan menanggalkan apa yang tidak penting dari diriku (aku mengutipnya dari J.K. Rowling).


Ya, sebagaimana kegagalan itu adalah bagian dari seleksi untuk membuang cabang-cabang yang tidak kita perlukan. Tuhan hanya mengirimkan apa-apa yang penting melalui kegagalan, dan aku percaya itu, Ken, lebih percaya dari siapa pun di usia remajaku kalau kegagalan bukanlah sebuah kegagalan.


Kau barangkali sudah tahu akan peribahasa kalau mempertahankan itu pekerjaan yang jauh lebih sulit. Pada kondisi ini, menjaga pandangan positif seperti sebelumnya membutuhkan tenaga dan kesabaran yang lebih. Kau tahu, semakin sabar dirimu, maka semakin besar juga godaan yang datang.


Semakin hari, kegagalan ini semakin mengerikan. Beberapa waktu lalu, mungkin aku masih biasa dengan kegagalanku tetapi malam ini aku kembali merasakan kegagalan yang hampir genap enam tahun masih setia di sisiku, tak beranjak ke mana-mana.


Aku sadar waktu enam tahun ini bukanlah waktu yang singkat dan gampang, Ken. Sesekali terpikir soal “apa yang ada di luar diriku” dengan membandingkannya dengan orang lain. Aku menyadari betul kalau di luar ini, ada orang yang lebih buruk nasibnya daripadaku hari ini.


Ada yang sepuluh tahun masih gagal, ada yang lima belas tahun masih gagal, dan ada juga yang gagal hingga di umur 60 tahun. Kalau masih enam tahun sih, masih belum apa-apa, pikirku.


Nah, kalau aku membandingkan diriku dengan mereka, rasa-rasanya aku masih seperti anak kecil yang baru saja keluar dari rahim ibuku. Ada masalah yang lebih besar dihadapi orang-orang. Di posisi kegagalanku hari ini, sudah sewajarnya kalau aku masih tak tahu apa-apa.


Atau, aku masih belum bisa melihat dengan baik, masih terbata-bata, dan masih merangkak bagai bayi-bayi munyil yang berumur kurang dari satu tahun. Jadi, kegagalanku yang selama 6 tahun nyatanya tidak benar-benar buruk jika dibandingkan dengan yang lain. Sejak awal aku tahu betul kalau setiap orang punya garis finisnya masing-masing. Bisa jadi ‘kan, ujung jalan itu ada di tahun ke-7, Ken, siapa yang tahu?

***


Sampai hari ini, aku masih memelihara mimpiku untuk menerbitkan sebuah buku di penerbit mayor. Tak peduli kalau aku masih harus menunggunya selama 5 atau 10 tahun lagi, aku akan tetap menunggunya sampai mimpi itu tercapai. Aku akan tetap setia pada mimpiku, Ken, sekalipun sulit sekali mewujudkannya.


Namun, aku akan belajar membenahinya satu per satu. Melalui serentetan kegagalan ini, tidak lantas membuatku berhenti memercayai mimpiku yang sudah kucanangkan di depan mata, bahkan sejak kuliah dahulu.


Selama 6 tahun terakhir ini, aku bersyukur pernah gagal bertubi-tubi. Darinya aku mendapatkan pelajaran hidup yang amat berharga, yang tak mungkin bisa kudapat dari sekolah ataupun dari buku-buku tentang budi pekerti.


Di dunia yang paradoks ini, Ken, aku lebih mengerti apa itu kesetiaan, kepercayaan, tanggung jawab, dan mimpi. Pengahayatan terhadap itu lebih dalam kurasakan daripada sebelum-sebelumnya. Barangkali, inikah yang Tuhan inginkan, Ken?


Walau perjalanan ini amat melelahkan, ternyata ada tangga yang harus kita pijaki, ada perjalanan yang harus kita tempuh, tak ada jalan pintas yang bisa diandalkan selain terus menyusuri jalanan berkerikil ini perlahan demi perlahan. Karena sudah terlanjur punya mimpi, dan karena sudah terlanjur melangkah, bukankah apa yang telah kumulai sudah sepatutnya kuselesaikan juga, ‘kan?

***


Kenzoku, akhirnya aku dapat membuat mood booster untuk diriku sendiri kala itu. Mengenai kegagalan dan kekalahanku yang selama ini masih berlangsung, ternyata itu bukan dari bagian dari diriku lagi. Ya, kegagalan itu sejatinya bukan melekat pada diriku, melainkan hanya jalan yang perlu kususuri saja.


Setelah itu, aku bisa melepaskannya seperti aku menaggalkan jaket-jaketku ketika sudah tak kuperlukan lagi. Ken, kita semua sedang bermetamorfosis! Kita sedang tumbuh dengan cara yang baik dan positif, dan aku tahu, suatu hari, kita akan mekar seumpama bunga-bunga mekar.


Semua pikiran tentang kegagalan, semua pikiran tentang kekalahan, semua pikiran tentang ditinggalkan, semua pikiran tentang trauma, untuk kali ini aku terima dengan tangan terbuka; Menerimanya menjadi bagian dari diriku yang lalu, hari ini atau esok hari; sebuah deklarasi kembali kupatenkan.


Kenzo, aku menyadari dari serangkaian peristiwa ini, hal-hal drastis terjadi. Pelajaran yang bukan aku dapatkan dari perpustakaan, tapi hidup itulah yang memaksaku, memaksa kita semua untuk bersikap demikian dan betapa aku kagum pada diriku sekarang, Ken. Aku tahu, sejauh ini aku tidak pernah menyerah, bahkan ketika aku mencoba di tahun ke-7.


Aku tidak pernah berhenti, dan hari ini aku mengizinkan diriku sendiri untuk mencobanya lagi dan lagi. Sekalipun aku terjatuh, aku mengizinkan diriku sendiri untuk berdiri lagi. Sekalipun aku terluka, aku mengizinkan pikiran positif hinggap di kepalaku karena aku tahu, pikiran positif itu adalah 50% obatnya. Sekalipun aku dikhianati, aku mengizinkan diriku untuk memaafkan mereka. Namun, bukan berarti aku harus bersama dengan mereka lagi.


Aku mengizinkan diriku sendiri untuk membiarkan lepas dari genggaman lingkungan-lingkungan seperti itu. Aku mengizinkan diriku untuk bisa berkumpul dengan orang yang lebih baik lagi. Seperti sebuah ultimatum, hari ini aku bangga pada diriku sendiri, betapa hebatnya aku melakukan itu semua, Ken.


Aku tahu aku adalah orang yang loyal, bertanggung jawab, setia pada keputusan dan komitmen. Oleh karena itu, aku mengizinkan diriku sendiri untuk bersikap tetap seperti ini dan tetep memelihara kebaikan yang sebelumnya sudah kupelihara, dan sudah kita pelihara bersama-sama dan terakhir, aku mengizinkan diriku lagi untuk mencintai orang yang sepatutnya kita cintai.


Ken, tak banyak yang tahu, tetapi kita adalah berlian, setiap manusia pada dasarnya adalah berlian. Jika aku ditinggalkan, bukan aku berarti aku yang ditinggalkan. Benar saja, mereka hanya kehilanganku (barangkali kau pun merasa telah kehilanganku, Ken). Mereka hanya kehilangan kita dan itu tidak berarti lagi buatku.


Aku tidak marah pada situasi apa pun karena sejatinya, kini aku percaya semakin banyak tempaan yang datang, orang-orang akan semakin kuat dan bijaksana ketika menyikapinya dengan benar. Aku akan memilah mana lingkungan yang baik dan kurang baik. Mana tempat yang cocok untukku tumbuh mana yang malah menenggelamkanku perlahan-lahan.


Ken, hari itu aku teramat sangat senang. Hari itu aku ingin tersenyum selebar-lebarnya karena aku mulai merasa bangga pada diriku sendiri dn sejenak, biarkan aku berbagi kebahagiaan ini dengan dirimu, tak akan kutahan-tahan lagi seperti sebelumnya. Ketika aku bahagia, dunia harus merasakannya.


Kenzoku, hari itu kau adalah dunia dan semestaku yang tak bisa kubantah lagi, seperti itu. Namun, kau juga harus ingat, ada kalanya ketika seseorang meninggalkan dunia dan semestanya yang dahulu; karena ia harus berpulang pada tempat yang lebih esensial daripada sebelumnya; sebuah dunia yang akan menjadi perjalanan selanjutnya, dunia yang lebih bernilai daripada yang pernah kutinggali sebelumnya. Perjalanan terus berlanjut, dan aku tak akan berhenti sebab aku sudah memulainya.

0 comments:

Posting Komentar