![]() |
| Unsplash/Muhammad Adil |
Berada di tengah lingkungan dengan frekuensi yang sama adalah sebuah kenikmatan duniawi yang semua orang inginkan. Bagaimana tidak? Hal tersebut nyatanya menghasilkan sebuah elemen rasa yang senantiasa melekat pada sanubari manusia.
Sebuah elemen yang tak bisa diindera. Maklum, namanya saja rasa. Atau, kamus ilmiah mengenalnya sebagai hal non-materialistik. Ya, manusia menyebutnya rasa nyaman. Hidup di antara insan yang sama memantik rasa nyaman di dalam dada. Oh, begitu nikmat bila bisa bernapas dalam kondisi nan nyaman.
Namun, inilah kuasa Tuhan. Dengan script kehidupan yang telah tertulis di Lauh Mahfudz, bumi ini ditakdirkan memiliki penampilan nan elok dengan hadirnya manusia yang membawa warna kehidupan yang beragam.
Apa yang tertulis di paragraf pertama hanyalah sebuah warna saja. Ahli fikih menyebutnya qaul jumhur, pendapat mayoritas. Ya, begitulah yang dirasakan mayoritas manusia. Bagi mereka, letak kenyamanan ada di lingkungan yang sama. Lantas bagaimana dengan mereka yang mungkin masuk ke dalam ‘golongan orang-orang yang minoritas’?
Jawaban pertanyaan di atas pun sangat variatif. Oleh karenanya, saya mencoba mengungkapkan rasa dalam untaian kata yang terbersit di dalam benak sebagai salah satu individu yang pernah berada di tengah lingkungan yang berbeda. Rasa ini muncul kala saya tengah menimba ilmu di sebuah pesantren yang ada di Ciputat, Tangerang Selatan.
Himpunan Warna di Sebuah Pesantren
Dahulu, saya pernah mengenyam bangku pendidikan tingkat SMP hingga SMA di sebuah pesantren dengan gaya pendidikan yang antimainstream. Disebut demikian, karena saya sendiri sukar mendefinisikan jenis pendidikan yang ada di pesantren itu, saking ‘khasnya’ pesantren itu dari pesantren-pesantren yang ada.
Di pesantren tersebut, saya dimanjakan dengan warna yang serba sama. Meski nyatanya beragam, tetapi setidaknya kami berada di bawah naungan bendera dengan warna yang sama.
6 tahun berada di pesantren, saya resmi dilesatkan sebagai anak panah persyarikatan. Begitu kata para sesepuh. Setelahnya, saya memberanikan diri untuk mengenyam pendidikan di Ciputat.
Dengan segala pertimbangan, saya juga masuk di sebuah pesantren yang ada di sana. 2020, saya resmi menjadi mahasiswa dan mahasantri. Di sebuah kampus dan pesantren mahasiswa. Keduanya menghadirkan warna yang berbeda dari pesantren sebelumnya. Ya, berbeda. Bahkan sangat berbeda. Satu diksi yang mewakili kondisi ini, minoritas.
18 bulan berada di rumah, saya hampir tak pernah dimanjakan dengan warna yang sama. Ya, hampir. Karena ada kalanya saya berada di tengah lingkungan yang sama. Selama 18 bulan itu, saya mencoba menutup identitas diri. Takut menerima hal-hal yang menekan rasa betah saya di sana, baik tekanan fisik maupun psikis.
Perlahan tapi pasti, identitas itu pun terbuka. Tentu ada ceng-cengan dari teman-teman dari warna yang berbeda ini. Pemberontakan dari dalam diri pun terlampiaskan. Panas-dingin menyikapi perbedaan kami tersaji di kolom chat maupun speaker gawai. Meski itu semua masih berada pada batasan yang wajar.
Satu hal esensial yang saya dapati selama belasan bulan mendapatkan perkuliahan dari pesantren: pesantren itu tetap hangat dengan beragam warna mahasantri yang terhimpun di dalamnya.
Sejumput Warna dari Kaum Minoritas
Kerumitan sebagai minoritas hadir di hadapan. Live, kata stasiun televisi. Secara bertahap, saya beradaptasi dengan lingkungan. Perlahan, identitas diri terungkap. Bukan hanya kepada segelintir mahasantri saja, tetapi semuanya.
Seluruh elemen pesantren mengetahuinya. Berbagai reaksi bermunculan. Semua reaksi itu sangatlah mengejutkan. Pada intinya, reaksi itu justru menghadirkan kehangatan.
Yah bung, saya merasakan kehadiran rasa nyaman di pesantren itu meski semua tahu bahwa kami berbeda. Ya, kami, karena saya ditemani oleh 2 rekan yang sama. Hanya dua dari ratusan manusia di sana.
Kehangatan sebagai minoritas di pesantren itu tidak muncul sekejap mata. Butuh keberanian dan keteguhan untuk senantiasa bertahan dan mempertahankan. Bertahan menjalani pendidikan di pondok dan mempertahankan warna yang terpatri dalam jiwa.
Dari pendidikan, kami senantiasa bertahan, walau minder selalu saja mendatangi kami. Maklum, warna yang kami bawa membuat kami merasa bahwa segalanya adalah hal yang baru. Dari pertemanan, kami senantiasa mempertahankan warna ini, walau teman-teman berusaha mengganti warna kami. “Dzak, puasanya mulai tanggal 10 aja deh” atau “Jek, di kamu ada maulidan gak?” celetuk mereka. Tentu, hal itu hanya sekadar gurauan nan menghangatkan.
Pada intinya, kami yang hanya sejumput ini mengafirmasi adanya kehangatan meski berada di lingkungan yang berbeda. Sejumput warna ini setuju bahwa kami tak perlu risau lagi takut akan latar belakang warna yang dibawa. Inilah kami, sejumput warna dari kaum minoritas. Tetap memberi warna, walau sejumput adanya.

0 comments:
Posting Komentar