![]() |
| credit: @swarcm |
“Kalau mau
mati, ya mati saja!”
Teriakan
melengking itu membuatku menoleh, hampir terpeleset dari pinggiran pagar di
lantai 25.
Seorang gadis bertubuh minimalis, wajahnya bulat dengan mulut kecil. Dia berkacak pinggang, menghampiriku dengan raut kesal—yang sayangnya tampak imut.
“Masalah hidupnya segede gunung ya, sampe harus dijatohin dari lantai 25.”
Aku hendak
membalas perkataan kurang ajarnya itu, tetapi tangan mungilnya lebih dulu
menarik bagian bawah bajuku, hingga aku terjatuh ke lantai. Kembali masuk ke rooftop setelah sebelumnya berdiri di pinggir pagar pembatas.
Aku
melotot, menyentak keras, “Kau ini apa-apaan? Jangan mencampuri urusan orang
dewasa! Main saja kau dengan teman-temanmu sana!” Aku mendorong tubuhnya yang
hanya setinggi lengan, mengusirnya jauh-jauh.
“Hei, Om.
Denger ya,” katanya yang berhasil lepas dariku.
Apa? Om
katanya? Aku belum setua itu. Lagi pula siapa anak kecil ingusan yang sudah
memakai make up ini? Pasti menyomot punya ibunya. Huh, mengganggu momen bunuh
diriku saja.
“Sudah,
pergi saja sana! Aku tidak butuh belas kasihanmu meski kau itu anak kecil.
Lagi pula aku bukan om-mu. Kita tidak punya hubungan darah apa pun. Kecil-kecil
sudah dicoret-coret mukanya. Sana!” Aku mengusirnya lagi, tetapi dia berkelit.
Rambutnya
yang dikuncir kuda itu bergoyang saat menghindariku, mengambil sesuatu dari
tasnya, lalu menunjukkan sebuah kartu padaku. Mengoceh kalau umurnya sudah 17
tahun dan yang menempel di wajahnya itu namanya make up. Aku diejek tidak
mengerti dunia saat ini, kuno, dan ketinggalan zaman.
Aku
tersenyum miring. Bukan aku, tetapi dunia yang tidak mengerti diriku. Sudah
kulakukan apa yang disuruh dunia. Sudah kupasrahkan juga ketika usahaku tak
kunjung tergapai. Namun, apa? Tidak ada hasilnya.
Sia-sia.
Semua omong
kosong yang orang-orang sebut nasihat, kata-kata bijak, hanyalah sampah bagiku.
Sama sekali tidak berdampak apa-apa perkataan mereka itu.
Bohong.
Semuanya bohong.
Jadi,
bukankah dengan mati semuanya akan selesai?
Urusan
dunia picik ini juga akan tuntas. Aku sakit, orang sekitarku … mana
peduli mereka padaku?
“Pergilah,
aku tidak butuh ocehanmu. Cukup lihat saja bagaimana aku terjun dari lantai
ini,” kataku tidak peduli. Untuk apa mendengarkan omongan anak kecil yang mengaku
berumur legal?
Tidak ada yang bisa
mengubah apa pun dalam hidupku yang sudah hancur. Tidak ada harapan lagi kecuali kematian. Mungkin jika hidup lagi setelah kematian, di kehidupan itu aku akan
menemukan bahagia. Mungkin di kehidupan itu aku bisa tersenyum lebar.
Seperti
dulu.
Iya, dulu.
Saat langit masih berwarna merah muda dan biru. Bukan gelap seperti sekarang.
Aku naik
lagi ke pinggiran pagar saat gadis bernama Silvi itu mengoceh lagi. Kali ini
dia memegangi kakiku. Aku mendorongnya dengan keras kali ini, hingga dia
terjerembab jatuh.
Aku
memperingatkannya, “Tidak perlu bersusah payah menarikku keluar dari jurang,
karena kakiku akan terus melangkah ke dalamnya. Tidak ada gunanya. Aku yang
memilih ini dan aku juga tidak akan menyesalinya. Selamat tinggal.”
Hal
terakhir yang dapat kudengar, hanya teriakan melengking Silvi.
***
Aku
mengerjap mendapat tepukan ringan di bahu. Seorang wanita paruh baya berumur 50
tahun tersenyum lebar padaku, memperbaiki jas putih yang kupakai.
Ah, kenapa
aku bisa teringat kejadian delapan tahun yang lalu?
“Mikirin
apa? Gugup?”
Aku balas tersenyum. Menggamit tangannya, lalu kucium pelan. “Terima kasih untuk segala kasih untukku, Bu. Terima kasih karena tidak pernah lelah mendidik aku yang keras kepala ini. Maaf sudah menggores banyak lelah di wajah Ibu. Doakan pernikahanku lancar.”
Umurku sudah di akhir kepala dua. Sudah saatnya bagiku
mewujudkan hal yang selalu dinantikannya.
Ibu
mengelus kepalaku sayang, menjawab semua pernyataanku dengan pelukan hangat
yang setahun belakangan ini diberikannya.
Aku duduk
di kursi akad lima menit setelahnya. Di depan ayah mertua yang menyambutku
hangat, disaksikan keluarga dan teman-teman yang nyatanya ada di sekelilingku
selama ini. Juga … dia yang kini duduk di sampingku.
Suasana
mendadak hening ketika ayah mertuaku membaca kalimat ijab. Dia menatapku dalam
selaras dengan intonasinya yang menegaskan kalau apa yang akan kami ucapkan di
meja ini, bukan hanya janjiku pada ayah mertuaku, bukan hanya janjiku pada dia,
tetapi juga janjiku kepada Sang Maha Kuasa yang menjadi saksi terbesar di
antara kami.
Lalu aku
mengucapkan qabulnya, “Saya terima nikah dan kawinnya, Silvi Hanindya bin Agung
Hananda dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Lantunan
doa-doa bergaung mengelilingiku setelah kata ’sah’ diucapkan. Aku melirik dia
sekilas. Gadis kecil yang dulu menarikku dari pagar pembatas, meneriakiku
tentang betapa bodohnya diriku yang mau bunuh diri, memanggilu om, dan heboh
memberitahu tentang umur aslinya itu, kini duduk di sampingku dengan perawakan
dewasa.
Silvi. Dia
sangat cantik dengan kebaya putih dan sedikit riasan di wajahnya yang tetap
bulat. Bibir kecilnya mengikuti doa yang dilantunkan, lalu menatapku.
“Hai, anak
kecil,” ucapku padanya yang kemarin berulang tahun untuk 25 kalinya.
Sudut
bibirnya tertarik bersamaan. Teringat panggilan pertama kami dahulu. “Hai, Om,”
balasnya memamerkan gigi taring yang sangat kusukai.
Terima kasih Tuhan, aku masih diberikan kesempatan.

0 comments:
Posting Komentar