Peran Pesantren Tak Hanya sebagai Lembaga Pendidikan Agama Islam Saja

khaskempek.com


Pembahasan tentang pesantren hingga saat ini masih menjadi sebuah topik yang menarik untuk dikaji. Pada umumnya, pesantren masih dikenal sebagai tempat pendidikan Islam klasik, tradisional atau yang acap kali disebut konservatif.


Namun, seiring perkembangan zaman pesantren berevolusi sebagaimana tuntutan modernisasi. Meskipun demikian, pesantren tidak terlepas dari visi kepesantrenannya yaitu tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran agama Islam.


Salah satunya, menanamkan nilai-nilai luhur (akhlaqul karimah) pada santri. Sehingga, pesantren dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan Islam yang unik, karena memadukan antara sistem pendidikan tradisional/klasik dan modern.


Sebagaimana kaidah:

الْمُحافَظَةُ على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأَصْلَحِ


“Memelihara (menjaga) nilai atau ajaran lama yang baik dan mengambil nilai atau ajaran baru yang lebih baik”


KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering kita sapa Gus Dur memperkenalkan pesantren sebagai tempat belajar dan hidup santri. Karena pesantren bukan hanya tempat belajar, akan tetapi pesantren juga menjadi tempat hidup bagi santri.


Di pesantren, santri hidup mandiri, sederhana dan akan mendapatkan ilmu yang tidak hanya memprioritaskan dunia, tetapi juga akhirat.


Oleh sebab itu, pesantren masih survive dan eksis di kalangan masyarakat, tentunya juga dengan berbagai keunggulan sistem pandidikan yang ada di pesantren.

 

Elemen, Karakteristik dan Tradisi Keilmuan Pesantren Menurut Gus Dur


Dalam penjelasannya, pesantren memiliki tiga elemen utama yang layak dijadikan subkultural, yaitu:


Pola Kepemimpinan Pesantren yang Mandiri


Dari sekian banyak pesantren di Indonesia, mayoritas pesantren dalam pola kepemimpinannya tidak terkooptasi (tidak terpilih) oleh negara/pemerintah.


Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sebagian besar pesantren masih bertahan dengan pola kepemimpinan yang menjadikan kiai sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam lingkungan pesantren.


Misalnya, dalam pengambilan keputusan kurikulum. Husein Muhammad menyatakan bahwa otoritas kiai di pesantren berbeda dengan hierarki dalam sebuah organisasi birokratis. Pada dasarnya kekuasaan kiai di pesantren berdasarkan pada moralitas dan pengetahuan ilmu agama yang sangat mumpuni.


Maka, tidak heran kiai-kiai di pesantren mempraktikkan sekaligus memberikan suri taudalan bagi santri-santrinya untuk hidup mandiri, sederhana, dan egaliter.

 

Kitab Kuning di Pesantren


Pesantren menggunakan kitab atau rujukan yang diambil dari berbagai abad atau yang kita kenal dengan kitab kuning.


Kitab kuning sudah menjadi tradisi di pesantren sebagai rujukan dalam penyelesaian sebuah masalah yang sedang terjadi di dalam pesantren maupun permasalahan yang terjadi di masyarakat, seperti masalah ubudiah, muamalah, al-akhwasy syakhsiyah dan lain sebagainya.


Pesantren memiliki tantangan tersendiri untuk mejawab suatu masalah, khususnya masalah yang terjadi di pesentren dan juga masalah yang terjadi pada masyarakat umum, dengan upaya menyelaraskan solusi yang telah tersaji dalam kitab kuning, seiring perkembangan zaman yang semakin kompleks.


Misalnya dengan lahirnya forum yang membahas masalah-masalah yang kerap kali muncul di masyarakat yang masih belum ada dalil sebelumnya, sebut saja bahtsul masail.


Sampai saat ini menjadi keunggulan tersendiri bagi pesantren, karena tradisi keilmuan yang masih mempertahankan kitab kuning sebagai rujukan dan sistem pendidikan yang di-upgrade, seperti pengembangan bahasa, yang dapat mempermudah para santri untuk melanjutkan belajarnya ke luar negeri seperti di Mesir, Turki, Maroko dan lainnya.


Sistem Nilai yang Dianut


Wajar saja ketika visi pesantren pada umumnya untuk memperbaiki moralitas santri-santrinya. Sejauh ini pesantren masih masyhur sebagai tempat untuk membenahi perilaku, yang tentunya tidak dapat mereka temukan di tempat lain.


Hal ini disebabkan pesantren memiliki sistem yang masih relevan dengan sosiokultural yang ada di masyarakat. Pesantren juga memiliki peran besar dalam perkembangan dan kemajuan masyarakat. Terbukti output pesantren yang tidak sedikit telah berkiprah dalam perkembangan dan kemajuan masyarakat sekitar.

 

Kiprah Pesantren dalam Perkembangan Masyarakat Sosio-Kultural

 

Menurut Fairuz Abadi sebagai Sekretaris Diskominfotik, peran pesantren tidak hanya sebagai lembaga yang lahir jauh sebelum kemerdekaaan, tetapi pesantren terus bergerak dan berkembang mengikuti zaman, sehingga melahirkan kader hebat dan tangguh di semua lini kehidupan.

Ada yang menjadi presiden, menteri, dan lainnya yang terlahir dari pesantren. Pesantren dapat mencetak semua peran, karena ia mampu membangun nilai profetik.


Model pendidikan di pesantren tidak hanya berorientasi pada aspek material, ia juga bertujuan terhadap moralitas serta keterkaitan dengan nilai-nilai normatif yang bersumber dari agama yang tetap mendarah daging dalam lingkungan pesantren.


Tidak hanya itu, pesantren juga berperan dalam meningkatkan stabilitas sosial masyarakat. Hal ini terbukti dengan entitas pesantren yang ikut andil dalam perkembangan kesejahteraan masyarakat, baik dalam bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, perkembangan ekonomi Islam dan perubahan sosial lainnya.


Berdasarkan hal tersebut, pesantren telah membuktikan eksistensi dan kiprahnya di ruang lingkup masyarakat.

Artikel telah dimuat di https://bata-bata.net/2022/08/05/Diskursus-Pesantren-Peranan-hingga-Stabilitas-Sosial.html

Editor: Hafidatul Millah

0 comments:

Posting Komentar