Saat Remaja Menggempur Bahasa Indonesia

Tik Tok @radita.pradana
(hanya sebagai ilustrasi)


Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari penggunaan bahasa. Bahasa merupakan sarana komunikasi antar manusia untuk mengerti dan paham terhadap apa maksud dan tujuan yang ingin tersampaikan.


Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai sifat sosial yakni terpakai oleh setiap lapisan masyarakat. Masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen tentunya menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa pemersatu bangsa.


Bahasa Indonesia memegang peranan penting pada seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang wajib dipelajari baik di SD, SMP, SMA atau sederajat hingga perguruan tinggi.


Namun, dalam penggunaannya sehari-hari kalangan remaja tidak memperhatikan kaidah-kaidah kebahasaan yang telah dipelajari dengan alasan untuk mempermudah komunikasi. Hal tersebut terjadi karena adanya pengaruh globalisasi.


Globalisasi ditandai dengan berkembangnya teknologi secara pesat sehingga memudahkan budaya-budaya dan kebiasaan asing masuk ke Indonesia. Adanya media sosial menjadi salah satu jalur masuknya budaya dan kebiasaan asing yang mudah remaja terima mengingat kalangan remaja saat ini merupakan generasi yang melek teknologi.


Media sosial menjadi sarana untuk berinteraksi dan berteman dengan siapa pun, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga eksistensi bahasa Indonesia mengalami pergeseran karena munculnya kosakata asing baru.


Sebelum adanya kosakata asing karena pengaruh globalisasi, telah muncul terlebih dahulu yang sering dikenal dengan “bahasa gaul”.


Istilah tersebut muncul pada akhir tahun 1980-an. Bahasa gaul biasanya terpakai sebagai alat komunikasi di antara remaja sekelompoknya.


Hal tersebut karena remaja memiliki bahasa tersendiri untuk mengungkapkan ekspresi diri dan menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau pihak lain. Sampai saat ini, bahasa gaul masih sering terpakai oleh para remaja di Indonesia.


Adanya bahasa gaul dan kosakata asing tersebut menyebabkan eksistensi atau keberadaan bahasa Indonesia menjadi tergeser.


Saat ini, banyak remaja yang menggunakan campuran antara bahasa Indonesia, bahasa gaul, dan bahasa atau kosakata asing sebagai sarana komunikasi dengan teman sebayanya. Oleh karena itu, kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak diterapkan dalam bahasa komunikasi sehari-hari.


Para remaja menganggap bahwa penggunaan bahasa gaul dan kosakata asing mempermudah komunikasi di antara mereka. Banyak juga yang beranggapan bahwa penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah kebahasaan akan terlihat kaku dan sangat baku jika digunakan dalam komunikasi sehari-hari.


Sehingga bahasa gaul dan kosakata asing digunakan dalam interaksi dan komunikasi karena dianggap lebih santai dan lebih ringan.


Penggunaan bahasa gaul dan kosakata asing dalam percakapan sehari-hari di kalangan remaja menyebabkan adanya kosakata bahasa Indonesia jarang digunakan dan bahkan jarang diketahui arti yang sebenarnya.


Sebagai contoh banyak remaja menggunakan kosakata selfie, contact person, online, offline, netizen, link, smartphone, bullying, tethering, upload, share, searching.


Kosakata tersebut lebih dikenal daripada swafoto, narahubung, daring, luring, warganet, pranala, gawai/ponsel pintar, perundungan, area bersinyal, unggah, membagikan, mencari. Hal tersebut membuktikan bahwa keberadaan bahasa Indonesia semakin tergeser dengan bahasa gaul dan kosakata asing.


Jika padanan bahasa Indonesia dari kosakata-kosakata tersebut digunakan, pasti akan terlihat aneh karena belum terbiasa. Akan tetapi hal tersebut perlu dibiasakan, dimulai dari mewajibkan diri sendiri untuk menggunakan padanan bahasa Indonesianya dalam percakapan sehari-hari.


Sedangkan bagi pemangku kebijakan, diharapkan dapat memberikan penegasan kembali tentang aturan penggunaan bahasa dan kedudukan bahasa Indonesia agar eksistensi atau keberadaan bahasa Indonesia terjaga.


Namun, hal tersebut bukan berarti kita mengarahkan remaja untuk tidak mempelajari bahasa asing.

0 comments:

Posting Komentar