Kamu yang Berbeda

Twiiter @fabiola_pramono


Fajarina Hanifa, psikiater yang sudah menangani puluhan kasus kejiwaan dan selalu sukses membuat pasien sembuh dalam tiga bulan. Keluarga pasien selalu puas dengan kinerjanya yang cepat dan langsung mencari penanganan yang tepat.

 

Berbekal satu gedung kecil yang dulu disewanya, kini Rina, panggilannya, memiliki gedung khusus untuk pekerjaannya. Menampung tiga orang sebagai asisten.


Di balik kesuksesan yang terkenal di mana-mana, banyaknya penghargaan memenuhi lemari kacanya, hanya satu orang yang tidak bisa Rina tangani penyakitnya.

 

Suaminya sendiri yang mengidap gangguan kejiwaan kepribadian ganda.

 

“Mas, mau makan apa malam ini?” Rina tiba di rumah secepat mungkin setelah mendapat pesan kalau suaminya yang malang itu kelaparan.

 

“Mas? Apa itu, Kak?”

 

Rina menoleh cepat, terkejut melihat Gana sudah berbaring di karpet. Dia bergerak pelan mengambil remot televisi di ujung kakinya. Tak kunjung sampai, dia mendesah lelah, menyerah.

 

Menatap Rina tidak bergairah. “Jauuuh.”

 

Rina tersenyum manis, mengusap-ngusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Ini bukan suaminya yang asli. Ini kepribadiannya yang lain. Si pemalas, cuek, dan kekanakan alias menganggap dirinya masih berumur sembilan tahun, padahal sudah kepala tiga. Kepribadiannya yang ini bernama Anta.

 

Anta biasanya akan muncul saat Gana sangat lelah. Karakternya ada untuk mewakili perasaan Gana. Dari sini juga Rina bisa mengorek informasi tentang Gana yang tidak diketahui atau tidak ditunjukkan suaminya secara langsung. 


Sebagaimana anak-anak, Anta sangat polos dan akan mengatakan apa pun tanpa berpikir, lalu bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Seperti pertanyaan ‘mas’ tadi.

 

“Mau biskuit cokelat?” tanya Rina teringat makanan favorit Anta, mengabaikan pertanyaan sebelumnya.

 

“Mau, Kak!” teriaknya berusaha terdengar keras, tetapi tetap saja lemah. Dia menggelosor lagi di lantai.

 

“Oke. Tunggu ya, Adek," kata Rina.


Rina dan Gana baru menikah dua tahun. Rina sudah terbiasa dengan kepribadian suaminya yang kadang berbeda. Gana mempunyai empat kepribadian, termasuk miliknya sendiri. Anta adalah yang sering muncul dibanding dua lainnya.

 

Dua kepribadian lainnya itu adalah Bumi dan Tara. Sisi gelap Gana saat berada di titik terendah dalam hidup, atau begitu kecewa pada hidup. Dua karakter yang Rina waspadai, tetapi selalu berusaha bersikap baik ketika salah satunya muncul.

 

Rina pernah kewalahan menghadapi Tara. Kepribadiannya yang lebih ganas daripada Bumi. Jika Bumi hanya bermain dengan kata-kata, penuh penekanan yang membuat bulu kuduk merinding di setiap ucapannya, Tara muncul dengan kepribadian yang nekat dan tidak segan membunuh Rina jika menghalangi apa yang ingin dilakukannya.

 

Rina pernah benar-benar akan terbunuh jika saja tidak membuat Tara pingsan dengan bela diri yang dimilikinya.

 

Persamaannya, mereka berdua memiliki tujuan dan ambisi yang sama. Mereka berdua lahir dari masa lalu kelam Gana yang tragis. Ditinggalkan orang-orang yang disayang, dibuang, dihina, hingga hadirlah mereka. Bentuk nyata dari emosi Gana yang tak terealisasikan.

 

Sementara itu, kepribadian Gana yang asli cenderung positif, jenius, manja, perhatian, pekerja keras, dan determinan.

 

Mereka berempat sangat berbeda. Namun, Rina tidak bisa menolak kehadiran mereka. Mereka semua bagian dari diri Gana, tidak bisa dipisahkan atau dicampakkan begitu saja.

 

Rina tidak bisa menempuh terapi dengan memberi obat-obatan pada sang suami. Rina tidak mau melihat Gana menderita meminum pil-pil itu.


Meskipun menggunakan terapi dan resep obat tidak dapat membuat Gana sembuh total, setidaknya dengan menerima keberadaan mereka dan tidak pergi meninggalkan Gana, Rina sudah melakukan pengobatan terbaik yang bisa dilakukannya.

 

Rina mencintai Gana, menyayangi mereka juga. Mereka yang ada di tubuh suaminya.

 

“Sayang, kok aku bisa ada di sini? Kayaknya aku duduk di sofa tadi.” Gana mengernyit, mengucek matanya yang terasa berat habis bangun tidur.

 

Rina yang membawa biskuit cokelat pesanan Anta, terkekeh. Sudah bertukar tempat rupanya. Dia berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan Gana yang duduk.

 

“Anta tadi di sini. Mau biskuit gak, Gana Bumi Antara?” tanya Rina sembari menyebutkan nama lengkap suaminya.

 

“Hehe. Mau dong! Ini 'kan kesukaanku. Tau saja kalau pengen,” jawabnya.

 

Lagi, Gana dan Anta itu menyukai biskuit cokelat yang sama.

0 comments:

Posting Komentar