Dilema dalam Kebaikan: Antara Ikhlas dan Rela

 

Unsplash/Mostafa Meraji

Masih melekat dalam hati dan pikiran sebuah ungkapan penulis novel Kurniawan Gunadi: “Orang baik itu banyak sekali, tapi hanya satu yang tepat. Selebihnya hanyalah ujian.”


Perihal berbuat baik antar sesama memanglah sudah menjadi keharusan bagi kita semua. Namun, masih saja kebaikan itu terpleset, dalam artian kebaikan yang kita lakukan salah sasaran.


Kendati memang juga ada benarnya, setiap kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Akan tetapi, ketika kita menginginkan wujud kebaikan yang benar dan nyata dari seseorang itu tidaklah semudah yang terbesit dalam pikiran kita.


Dalam hal ini pun juga perlu bahkan penting kita refleksikan kembali, apa sebenarnya yang harus kita benahi agar kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain sudah benar-benar tepat sasaran. Sebab kebaikan yang kita lakukan untuk orang bukan sekadar kerelaan, namun juga keikhlasan.


Upaya Mengenali Diri Sendiri


Terkadang ketidaksadaran menjadikan kita salah dalam memaknai kebaikan. Kita mudah saja merasa telah berbuat baik kepada orang lain, namun di sisi yang lain kebaikan kita malah tidak berarti.


Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah terlebih dahulu adalah mengenali diri kita sendiri. Mengenali diri sendiri bagi sebagian orang tidaklah mudah. Banyak sekali yang merasa kebingungan ketika menyadari bahwa dirinya belum sepenuhnya mengenal dirinya sendiri.


Memang terdengar lucu bagi sebagian orang yang membahas hal ini, karena bagi mereka hidup ini tidaklah segaduh hanya dengan mempertanyakan “aku siapa?”.


Namun, tidak bagi mereka yang benar-benar ingin mengetahui betul dirinya sendiri, Dengan selalu mempertanyakan: Siapa sebenarnya dirinya? Apa tujuan hidupnya? Apa kelebihan dan kekurangannya? Dan lain sebagainya.


Mengenali diri sendiri pada dasarnya merupakan kunci kehidupan; suatu komando untuk bertindak dalam mengekspresikan serta mengaktualisasikan diri ke depannya.


Bagaimana tidak, ketika kita benar-benar belum menyadari siapa diri kita sebenarnya, apa tujuan hidup kita di dunia, kita akan lebih mudah bertindak akan suatu hal yang seharusnya tidak kita lakukan. Misalnya, selalu berpikiran negatif terhadap orang lain, iri, dengki, mudah menyalahkan orang lain dan lain-lain.


Sampai saat ini muhasabah merupakan upaya jitu untuk mengenali diri kita sendiri, Muhasabah perlu bahkan penting untuk kita lakukan. Ketika kita lupa meluangkan waktu bahkan tidak sama sekali bermuhasabah; jangan-jangan kita telah kehilangan jati diri sendiri sebagai manusia.


Sebagai hamba Allah Swt. yang tidak luput dari salah dan dosa tidaklah perlu menunggu momen tertentu untuk melakukan muhasabah. Anugerah waktu yang telah Allah Swt. berikan kepada kita tidaklah kurang untuk melakukan muhasabah diri.


Penulis rasa, merupakan suatu rahmat berikut hidayah dari Allah Swt. yang patut kita syukuri ketika kita masih memiliki kesadaran untuk selalu bermuhasabah. Mengapa demikian?


Karena dengan begitu kita mulai melakukan meditasi untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita.


Kita dapat berkontemplasi kembali dalam mengarungi kehidupan kita di dunia, kembali mempertanyakan apa yang sebenarnya tujuan kita hidup di dunia, apakah kita sudah benar-benar seutuhnya menjadi Khalifah fil Ardhi yang menjadi hakikat tujuan terciptanya manusia.

 

Dalam hidup ini, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk terus berupaya selalu menebar kebermanfaatan bagi orang lain. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.


 “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).


Memahami hal tersebut, terbesit dalam benak kita sebuah pertanyaan besar terkait apa sebenarnya kebermanfaatan yang harus kita lakukan kepada orang lain?


Banyak hadis Nabi Muhammad saw. yang memerintahkan kita untuk senantiasa menebar kebermanfaatan terhadap orang lain.


Di antara Hadis Nabi yang berbunyi


ومن كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته


Dan barang siapa (yang bersedia) membantu keperluan saudaranya, maka Allah (akan senantiasa) membantu keperluannya.”

Allah Swt juga berfirman dalam Al-Qur’an:


Artinya “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik pada diri kalian sendiri”. Q.S Al-Isra’.


Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menebar Kebermanfaatan terhadap Orang Lain


Begitu banyak anjuran yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan Rasulullah saw. untuk menebar manfaat terhadapa orang lain, baik berupa materi atau non materi.


Akan tetapi dalam hal ini penulis perlu menggarisbawahi bahwa ada hal penting yang perlu diperhatikan dalam menebar manfaat kepada orang lain, yaitu Ikhlas dan murni semata-mata mencari rida Allah Swt.


Contohnya, banyak sekali di luar sana orang-orang berlomba-lomba membangun masjid dengan megahnya akan tetapi di sekelilingnya masih terdapat fakir-miskin yang lebih membutuhkan uluran tangan kita.


Terlebih di zaman yang semakin canggih ini masih saja ada orang yang menebarkan kebermanfaatan terhadap orang lain hanya demi konten dan menuai pujian orang lain.


Beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika menebar kebermanfaatan kepada orang lain.


Pertama, niat. Betapa pentingnya niat ketika kita akan melakukan suatu pekerjaan. Ketika kita mengerjakan suatu pekerjaan harusnya berniat hanya mencari rida Allah Swt.


Dengan begitu, pekerjaan kita menjadi ringan, kebermanfaatan yang kita lakukan untuk orang lain pun akan terasa berarti, baik bagi diri kita maupun bagi orang yang telah kita bantu.


Kedua, kita harus pandai-pandai betul dalam memahami tindakan yang akan kita lakukan terhadap orang lain. Sebagaimana yang penulis sampaikan sebelumnya bahwa, kebermanfaatan atau kebaikan yang kita lakukan benar dan tepat sasaran.


Dengan kata lain bantuan dari kita merupakan suatu bantuan yang benar-benar mereka butuhkan. Dengan demikian kebermanfaatan yang dilakukan menjadi berarti.


Ketiga, rasa ikhlas. Ikhlas dapat kita pahami sebuah perbuatan yang sengaja dilakukan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah Swt.


Suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan ikhlas akan meringankan beban kita dalam mengerjakannya. Hal tersebut otomatis akan membuat kita menjadi tidak terbebani dalam melakukan serta menebar kebermanfaatan bagi orang lain di sekitar kita.


Jika ketiga poin di atas dapat terpenuhi, niscaya segala kebaikan yang kita kerjakan tak pernah sia-sia. Wallahu A’lam.

0 comments:

Posting Komentar