![]() |
| @alfiyahrizzya |
“Kami
berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri; menolong
diri kami sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap lebih sukar daripada
menolong orang lain, dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat
menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.” -Surat R.A Kartini kepada Nyonya
Abendalon. 12 Desember 1902
‘Zulfa asrama Al-Qomariyah dimohon segera mendatangi Kantor MI
sekarang juga’.
Suara mikrofon yang menggelegar seantero pesantren menyadarkanku
dari aktivitas harian pondok. Saat itu baru selesai liburan panjang. Dengan
bersemangat, aku bergegas menuju Kantor MI.
“Ada apa, ya kok tumben aku dipanggil ke kantor? Kepo-ku dalam hati”.
Setibanya di kantor MI, aku kaget karena ada banyak santri putri
lainnya yang tengah berkumpul; mungkin sekitar 20 orang. Sebagian besar dari
mereka adalah temanku. Aku pun ikut duduk dekat salah satu dari mereka.
“Mbak, ada perihal apa kok kita dipanggil berbarengan?” Tanyaku
pada temanku.
“Entahlah aku ga tahu juga, kita tunggu saja”. Jawabnya datar.
Perkiraan 10 menit kemudian, senior kami membacakan pengumuman
pengangkatan pembimbing badan otonom. Di pesantren kami, kami memiliki lembaga
M2KD (Majelis Musyawarah Kutubud Diniyah) yang konsen terhadap ilmu nahwu,
shorf, kitab klasik, fiqh, ilmu faraidl hingga ushul fiqh dan lainnya. Pembimbing
inilah yang nantinya menjadi guru sesuai fan ilmu yang ditentukan.
Dan, tibalah namaku dibacakan;
Zulfa Al-Qomariyah – Fiqh’s (Fiqh Substansi)
Degg.. Jantungku rasanya seperti terpompa lebih cepat dari
biasanya. Sederet tiga kata saja sudah mampu mengubah duniaku ke depannya.
Dunia yang tak akan sama lagi. Ada amanah baru, amanah besar di genggamanku.
Amanah yang harus dijaga. Amanah yang akan dipertanggungjawabkan kelak.
***
Tahun ini merupakan tahun ketigaku di pesantren. Aku mengawalinya
dengan penuh suka cita, karena sejatinya aku telah lolos penerimaan anggota program
LOGIS (Logika; Ilmu Manthiq dan Ushul Fiqh).
Tetapi, harapan hanyalah tinggal harapan. Keinginan untuk menjadi anggota LOGIS luruh seketika.
Yap benar; aku ditunjuk pesantren langsung untuk mengajar ilmu fiqh. Perasaanku kalut. Aku merasa tak pantas, jika dibandingkan dengan teman-teman lain yang kemampuannya jauh di atasku.
Belum lagi, aku tergolong masih baru mondok. Rasanya benar-benar
di ujung dilema dan takut di saat yang bersamaan. Kini, aku dihadapkan dengan
tanggung jawab besar yang bahkan tak pernah terbayangkan.
***
Waktu sambang akhirnya tiba. Aku menumpahkan segala keluh kesah
pada kedua orang tuaku. Abi dan Ummi pun menenangkanku. Hatiku sedikit lega,
walau masih saja ada yang mengganjal, meski tak separah sebelumnya.
Aku tak lagi sanggup menahan beban ini sendirian. Usai mendapat
ketenangan dari Abi dan Ummi, aku menumpahkan juga beban ini kepada beberapa
temanku.
“Zulfa, ilmu itu seperti air dalam sumur. Semakin airnya sering
diambil, maka kualitas airnya semakin bagus. Coba deh bayangin kalau ada sumur
tua yang airnya ga pernah diambil, kebayang ‘kan airnya bau apa hhe.”
“Fa, anggap saja kamu itu teman belajar mereka, bukan sebagai guru
ataupun pembimbing, niscaya kamu akan merasa tenang mengajar tanpa beban.”
“Fa, kalau kamu ditunjuk menjadi pembimbing, itu tandanya kamu mendapatkan
salah satu peluang mengabdi. Bukankah tujuan santri selain mencari ilmu adalah
pengabdian kepada pesantren?”
"Gapapa, Fa. Belajar ushul kan ga mesti masuk LOGIS. Kita bisa belajar bareng asal ada niat."
***
Bahwa Allah akan menerangi hamba-Nya dengan cahaya ketenangan,
petunjuk yang membuat semakin khusyuk; itu benar dan sejati adanya.
Apa-apa yang tidak dipendam sendiri; mencoba mencari jalan keluar
dari orang tua yang penuh kasih, teman-teman yang merangkul dengan hikmah, dan
hidayah kesejukan dari-Nya; adalah kunci dari segala kegundahan yang mendera.
Zulfa merasa dirinya seperti terlahir kembali; Segar, lega, rida dan
bahagia.
***
Terkadang kita hanya fokus dengan apa yang bisa raih, lupa dengan;
bahwa sebaik-baiknya kepemilikian adalah yang dibagikan, termasuk ilmu.
Sebagaimana dawuh Imam Al-Ghazali:
“Harta yang Anda miliki sepenuhnya ialah yang disedekahkan. Sedang
yang ditabungkan sebenarnya ia milik ahli waris Anda.”
Zulfa akhirnya menjalani hari-harinya dengan penuh enerjik. Sabar
dan telaten kepada santri-santri putri yang dibimbingnya. Membimbing dari hati,
menjadi tempat diskusi terbaik, menjadi guru sekaligus ibu bagi mereka.
Tidak berhenti sampai pengajaran dan praktik materi saja, akan
tetapi meyediakan waktu untuk mendengarkan curahan hati mereka, serta memberi
solusi atas hiruk-pikuk kehidupan ala santri.
Zulfa mafhum bahwa santri-santri yang diamanahi padanya merupakan anugerah derajat dunia akhirat jika ia membimbing dengan hati yang rida dan ikhlas. Ia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Alhamdulillah, di setiap akhir
periode, santri bimbingannya banyak yang berprestasi, di antaranya menjadi
santri ranking 1 dan santri Teladan. Alhamdulillahillah, Maa Syaa Allah La
Quwwata illa Billah.
***
Ditulis dengan ketikan cinta dan takzim pada almamater tercinta,
Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata dan M2KD Putri. Ambil yang baik, buang yang buruk.
*Tulisan ini pernah masuk 10 besar terbaik Lomba Menulis Kisah Santri Nasional pada November, 2020.

0 comments:
Posting Komentar