Rumah Cinta Adam dan Hawa

iStock


Cinta merupakan satuan aspek dasar pembentuk dalam sejarah yang tidak terlihat atau non artefak. Peranan cinta sangatlah begitu nyata dan kuat yang dengan mudah bisa terasa oleh para pencinta.


Cinta menjadikan segalanya indah meskipun dalam kondisi dan situasi yang begitu sulit sebab cinta memberikan berjuta warna dalam kehidupan manusia.


Jika melihat dalam sejarah, peradaban manusia tidak lepas dari kekuatan cinta. Dalam unsur pembangunnya, cinta menjadi kekuatan moral dan kritis, sebagaimana penciptaan dua insan yang memiliki perbedaan jenis kelamin.


Pada perbedaan jenis kelamin di antara Adam dan Hawa menjadikan keduanya satu pasangan yang saling melengkapi dalam segala aspek dengan membangun rumah cinta bersama.


Ketulusan cinta  Adam kepada Hawa membuatnya rida kala turut terusir dan melepas segala keindahan surga yang begitu luar biasa nikmatnya, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an:


“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan gelas-gelas, dan di dalam surga itu terdapat segala apa (kenikmatan) yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata, dan kamu kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf [43]:71)


Ilustrasi keindahan dan kenikmatan surga juga banyak terdapat dalam Al-Qur’an, akan tetapi semua keindahan dan kenikmatan surga yang terasa oleh Adam tidak ada apa-apanya. Adam rida saat melepas semua keindahan dan nikmatnya kehidupan surga tersebut menuju rumah cinta yang ada dalam jiwa Hawa.


Dalam jiwa Hawa terdapat ketenangan dan kenyamanan bagi Adam yang jauh nikmat dari keindahan surga yang ia rasakan sebelumnya. Jiwa Hawa sebagai rumah cinta pertama Adam, menjadikan Adam rela melepas segala keindahannya yang tidak bisa ia ungkap dengan kata-kata tersebut.


Adam lebih memilih untuk berlabuh dan menetap dengan membangun rumah cinta dalam jiwa Hawa. Bahkan ketika Adam dan Hawa terpisahkan oleh Tuhannya, Adam rela berjuang bertahun-tahun mengembara untuk mencari Hawa demi memperoleh ketenangan jiwa.


Jabal Rahmah: Simbol Rumah Cinta Sejati Adam dan Hawa

 

Perjuangan Adam mencari Hawa bukanlah hal mudah sebab banyak rintangan dan tantangan berat yang harus Adam jalani. Dengan perbedaan jarak, ruang dan waktu di antara keduanya, berbagai rintangan tersebut terbayar sebanding ketika Adam dan Hawa akhirnya bertemu di Jabal Rahmah.


Jabal Rahmah terkenal sebagai bukit kerindungan dan bukit pengorbanan dengan penuh limpahan cinta dan kasih sayang.


Jabal Rahmah menjadi tempat monumental yang banyak orang-orang datangi. Sebab Jabal Rahmah mempunyai sejarah dalam peradaban hidup manusia kala membangun rumah cinta.


Banyak tulisan nama-nama orang dan lawan pasangannya yang tertulis di sana dengan harapan bisa memperoleh keberkahan cinta dan kasih sayang seperti yang Adam dan Hawa rasakan. 


Cinta adalah sumber ketenangan dan kebahagian dalam kehidupan. Jadi berhentilah main-main atau mempermainkan cinta. Jika cinta hanya sebagai mainan untuk melampiaskan nafsu semata, maka kemurkaan dari Sang Maha Pencinta adalah konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.


Cinta harus terbukti melalui akad sebagaimana sesuai syariat bukan dengan hanya kata-kata modus atau lebay yang tidak jelas ujungnya. Cinta membuat seseorang lebih tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupannya, bahkan lebih mudah untuk mendekatkan diri dengan Tuhannya.


Ketika iman harus terbuktikan melalui amal, maka cinta harus dibuktikan dengan menikah agar hidup penuh keberkahan dalam membangun rumah cinta.


Editor: Alfiyah RA

0 comments:

Posting Komentar