Pelecehan Seksual di mana-mana, Tak Ada Tempat Aman bagi Wanita?

Ilustrasi Pelecehan Seksual Freepik.com
            

 

Dunia sudah mulai tak bersahabat dengan kaum wanita. Maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual serta minimnya dukungan untuk para wanita yang menjadi korban adalah salah satu bukti dari kebenaran hal ini.

 

 

Belakangan ini ramai sekali media membicarakan perihal kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Selalu ada kasus yang berbeda hampir setiap harinya. Pelaku pelecehan dan kekerasan seksual memang tidak hanya laki-laki. Media beberapa kali memberitakan kasus pelecehan dengan laki-laki sebagai korban. 

 

 

Namun, tetap saja sejarah mencatat bahwa laki-laki adalah pelaku utama perundungan dan pelecehan pada kaum wanita. 

 

 

Bahkan anak perempuan Gus Dur, Inayah Wulandari mengatakan dalam sebuah tayangan YouTube bersama Mamat Alkatiri bahwa hampir seluruh wanita di Indonesia pernah mengalami pelecehan seksual.

 

 

Kita akan bahas satu per satu, mulai dari pelecehan hingga kekerasan seksual. Pelecehan seksual adalah segala bentuk ucapan, simbol, maupun perilaku seksual lainnya. Sedangkan kekerasan seksual adalah perilaku yang sifatnya memaksa untuk melakukan hubungan seksual. 

 

 

Pelaku-pelaku kekerasan seksual lebih kejam daripada pelaku pelecehan seksual. Mereka tidak segan untuk melukai bahkan menghabisi korban untuk menuntaskan keinginannya. Sekalipun demikian, baik kekerasan maupun pelecehan seksual, keduanya adalah hal yang keliru. 

 

 

Biasanya, pelaku pelecehan dan kekerasan seksual adalah orang-orang terdekat korban, baik keluarga, tetangga, bahkan guru. Kasus pelecehan dan kekerasan seksual juga tidak jarang terjadi di tempat-tempat yang menurut kita aman seperti rumah, sekolah, hingga pondok pesantren.

 

 

Bentuk paling ringan dari pelecehan seksual adalah catcalling yakni pelaku melakukan siulan, komentar, dan pujian yang berbau seksual kepada korban. Catcalling bisa terjadi di sekolah, jalan raya, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat lain. 

 

 

Biasanya pelaku melakukan hal ini karena adanya dorongan dari perasaan superior yakni merasa pantas mengatakan apapun kepada korban. 

 

 

Beberapa orang menganggap catcalling bukan sebuah masalah, bahkan tidak sedikit yang merasa bangga setelah mengalami fenomena catcalling ini. Mereka menganggap dirinya cukup menarik tanpa memikirkan dampaknya yang tidak main-main.  

 

 

Catcalling membuat korban merasa risih, marah, kehilangan kepercayaan diri, bahkan beberapa ada yang sampai membatasi mobilitasnya. Lebih parahnya lagi, jika hal ini terjadi secara berulang, bisa menimbulkan trauma psikis bagi korban.

 

 

Dalam kasus pelecehan dan kekerasan seksual sering kali orang-orang menyalahkan bahkan merundung korban. Entah dari gaya berpakaian maupun perilaku korban. Tentu saja ini adalah kesalahan besar, karena seharusnya tidak ada alasan untuk mencari pembenaran atas kejahatan seksual yang terjadi.

 

 

Editor: Masluhah Jusli



0 comments:

Posting Komentar