Relasi Manusia, Teknologi, dan Alam

 Relasi Manusia, Teknologi, dan Alam (Ravi Kumar via unsplash.com)


Teknologi memiliki hubungan yang semakin erat dengan manusia, baik dalam tataran individual hingga global; dari teknologi yang sederhana hingga kompleks. Di zaman digital sekarang ini, dalam kesehariannya manusia semakin tidak bisa terlepas dari teknologi.


Hadirnya smartphone, salah satu produk teknologi modern, membuat manusia semakin tidak bisa menjaga jarak dengan teknologi. Ke mana saja manusia pergi selalu membawa smartphone; ke pasar, kafe, kantor, maupun tempat tidur.


Manusia selalu tergoda untuk mengambil alat teknologi yang kecil ini, baik untuk mengamati media sosial, pesan teks, main game, bahkan untuk transaksi jual-beli.


Menurut Pinantyo, pada saat yang sama, alam yang menjadi tempat manusia tinggal menjadi saksi sekaligus korban dari ambisi dan eksploitasi sumber daya industri sebab kemajuan teknologi.


Penggunaan kendaraan bermotor berkontribusi besar terhadap rusaknya lingkungan. Banyak masyarakat, terutama di kota-kota besar menggunakan kendaraan-kendaraan pribadi sebagai transportasi.


Banyaknya kendaraan pribadi juga ikut andil menjadi menyebab banyaknya polusi. Padahal banyak dari masyarakat tersebut yang seharusnya tidak atau belum membutuhkan kendaraan pribadi. Sikap manusia yang terlalu bergantung pada teknologi, malah membawa manusia kepada kehancuran.


Pandangan Para Filsuf Terhadap Perkembangan Teknologi


Dari sudut pandang filosofis, problem teknologi tidak serta merta menjadi problem sesederhana pro dan kontra. Nuansa dan akar permasalahannya jauh lebih kompleks. Dalam hal lain teknologi adalah hasil riil dari aktivitas kebebasan manusia.


Namun, teknologi juga mengakibatkan manusia harus mempertanyakan kembali posisi etis dan ontologis relasi subjek dengan penggunaan teknologi yang telah lepas kendali. Melihat dampak dan akibat perkembangan teknologi yang tidak selalu baik, tidak jarang para filsuf bersikap waspada terhadap perkembangan teknologi dalam kehidupan.


Baudillard, misalnya, yang khawatir dengan teknologi yang akan mengaburkan tanda-tanda simulakrum buatannya. Begitu pula dengan Hubert Dreyfus yang beranggapan bahwa interaksi bermedium teknologi justru akan mendegradasi interaksi manusia ke tingkat yang lebih rendah.


Rasa khawatir Baudillard dan Dreyfus mengenai dampak negatif teknologi yang semakin berkembang dalam kehidupan manusia tersebut benar-benar terjadi dan menjadi kenyataan.


Perkembangan teknologi memang telah menyebabkan manusia menjadi rakus sehingga membuat alam menjadi rusak. Beragam pembangunan industri, sampai bermacam-macam produk secara cepat, murah dan banyak.


Sehingga banyak menghasilkan limbah dari beragam industri tersebut, akibatnya lingkungan menjadi semakin tercemar.


Pencemaran Lingkungan


Menurut Djajadiningrat, pencemaran merupakan masuknya makhluk hidup, zat, engergi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan oleh kegiatan antropogenik. Sehingga kualitasnya menurun yang menyebabkan lingkungan tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.


Dengan perkembangan penduduk yang begitu pesat, sebagaimana perkiraan, akhir abad ke-21 penduduk bumi akan mencapai lebih dari 12 miliar. Oleh karenanya, planet ini harus dapat mendukung jumlah tersebut yang mana jumlah emisi atau limbah akan meningkat baik jumlah maupun ragamnya.


Wattimena juga berpendapat bahwa sampai sekarang industri pengolahan limbah di berbagai negara masihlah amat lemah. Limbah dan sampah hasil produksi pabrik banyak tertimbun ke tanah dan terbuang ke laut begitu saja.


Lingkungan menjadi rusak, air menjadi tercemar oleh polusi, dan begitu banyak ekosistem laut yang ikut rusak, akibat limbah yang terbuang sembarangan.


Negara-negara memaksa rakyat miskin untuk menjual tanahnya kepada negara-negara kaya untuk pembuangan limbah. Akibatnya, lingkungan sekitar tempat pembuangan limbah tersebut rusak.


Panen gagal, air tercemar, Orang-orang yang tinggal di daerah sekitarnya pun menjadi sakit, dan terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka. Pendek kata, industri-industri buah dari perkembangan teknologi ini merusak alam.


Demikian juga menciptakan penderitaan yang berat. Baik secara ekonomi, kultural, sosial, politik, maupun kesehatan, kepada berbagai komunitas di dunia.


Di sinilah letak paradoks kemajuan teknologi modern. Alih-alih, ia membantu meningkatkan kualitas hidup manusia. Dalam hal lain, karenanya manusia menjadi makhluk yang terlampau rakus dalam memperlakukan dan mengeksploitasi alam (bumi).


Esensi Teknologi Modern dan Upaya Menyikapi Perkembangannya


Martin Heidegger, dalam karyanya Die Frage nach der Technik (Pertanyaan tentang Tekonologi), menggunakan kata Ge-stell untuk menyatakan esensi dari teknologi modern.


Heidegger juga melakukan penyelisikan terhadap esensi teknologi modern untuk kemudian memberi kritik terhadapnya. Bagi Heidegger, akar keserakahan manusia bisa dipahami dalam esensi teknologi modern itu sendiri.


Dalam pemahaman esensi teknologi modern sebagai Ge-stell, manusia bukanlah subjek dari esensi teknologi modern itu. Manusia tidak bertindak sebagai pengontrol.


Namun, malah terjebak dalam struktur teknologi modern yang berciri “memeras, memanipulasi, mengeksploitasi, dan mengeruk sumber daya untuk keberlanjutan proses produksi itu sendiri”.


Menghadapi dampak positif dan negatif tersebut, maka menjadi jelas bahwa sikap diskretif, kemampuan berdiscernment, kemampuan menyikapi kemajuan teknologi dengan bijak sangatlah penting dalam kehidupan.


Sikap diskretif adalah sikap untuk membeda-bedakan secara kritis apa yang baik dan tidak baik dari suatu hal atau suatu Tindakan. Kemudian mengambil keputusan sesuai dengan yang baik, sesuai dengan kehendak Tuhan sesuai dengan panggilan hidupnya.


Untuk mengembangkan sikap diskresi yang baik, Pertama-tama kita perlu melihat kembali sebenarnya apa tujuan hidup kita. Kita secara kritis perlu bertanya apakah alat-alat hasil teknologi modern itu membantu ke tujuan hidup kita atau tidak.


Dalam hal ini, kita perlu mengembangkan sikap kritis, diskretif, dan bijak dalam menyikapi dan menggunakan alat-alat hasil teknologi modern.


Editor: Masruroh

0 comments:

Posting Komentar