Puputan Memanggil

 

 

Puputan Memanggil, Gita Krishnamurti via unsplash.com


Galuh Candrakirana tak akan berhenti mencari kekasihnya. Sekalipun tubuhnya mulai renta, ia akan mencari dengan tubuh-tubuh yang lain.


***


Dari jendela kamarnya, Ni Kadek Saraswati memandang sanggar tari yang masih lengang. Ia menikmati sisa-sisa kenangan saat tubuhnya begitu luwes menari. Tarian Panji Semirang yang mempertemukan ia dengan suaminya.

 

Dua anak gadis yang masih remaja memasuki aula sanggar. Mereka adalah murid Sanggar Tari Kresna. Nama yang selalu membuat hati Ni Kadek Saraswati terasa hangat. Sembari menunggu teman-temannya, kedua remaja putri itu menyalakan sound dan menyetel beberapa lagu.

 

Kulepas dikau pahlawan

Kurelakan dikau berjuang

Demi keagungan negara

Kanda pergi ke medan jaya

 

Lirik sebuah lagu yang baru saja disetel menembus relung Kadek Saraswati yang paling dalam. Ada kegetiran yang tiba-tiba merambah hatinya. Ia memejamkan matanya yang telah keriput. Ia larut dalam lagu itu. Lagu yang membawa rentetan peristiwa masa lalu seperti meriam yang menghantam ingatannya.

 

***

 

“Untuk sesaat aku ragu, yang berdiri di depanku ini perempuan atau laki-laki?” Nyoman Kresna melipat tangan di dadanya sambil memiringkan kepala mengamati riasan dan pakaian yang dikenakan Ni Kadek Saraswati. Nyoman Kresna memang suka sekali mengunjungi ruang rias sebelum Kadek Saraswati naik pentas.

 

“Tiang Kadek Saraswati,” jawabnya ketus

 

“Kadek Saraswati, Galuh Candrakirana atau Panji Semirang?” Nyoman Kresna melanjutkan ejekannya. Ia memang suka sekali meledek Kadek Saraswati sebelum menari, lantaran pakaiannya yang tampak berpadu antara laki-laki dan perempuan.

 

Dua tahun yang lalu, Kadek Saraswati bergabung dengan sanggar tari “Panji Semirang”. Tarian yang mengisahkan penyamaran Galuh Candrakirana menjadi laki-laki bernama Panji Semirang untuk mencari kekasihnya, Raden Panji Inu Kertapati yang menghilang.

 

Suatu malam, Nyoman Kresna datang ke Pura tempat Kadek Saraswati pertama kali ikut pentas. Tanpa segan mengolok gerakannya yang menurut Nyoman Kresna begitu kaku. Namun, rupanya olokan itu hanya tameng untuk menyembunyikan perasaannya.


Setelah mentas untuk kesekian kalinya, Nyoman Kresna memukul seorang pria lantaran hendak berbuat tidak sopan pada Kadek Saraswati. Ia mengaku sebagai tunangannya untuk membuat laki-laki itu menjauh.

 

“Laki-laki kurang ajar. Sama seperti Belanda,” cetus Nyoman Kresna penuh amarah. Dia memang begitu benci pada Belanda. Selain menjajah negeri ini, Belanda juga telah merenggut kedua orang tuanya dan merenggut kehormatan kakak perempuannya.

 

Pertemuan demi pertemuan menghadirkan percik cinta di antara keduanya. Hingga kemudian, Nyoman Kresna memberanikan diri menemui Wayan Daru, satu-satunya saudara Ni Kadek Saraswati sebagai pengganti bapa yang sudah tiada. Meski sering membuat jengkel, Ni Kadek Saraswati percaya pada keseriusan Nyoman Kresna untuk menikahinya.

 

***


Kehidupan Nyoman Kresna dan Ni Kadek Saraswati terasa sempurna setelah berjanji sehidup semati di hadapan Sang Hyang Widhi. Hingga kemudian, sebuah kabar datang, mencekam kehidupan di tanah Bali.

 

“Belanda sialan!” Wayan Daru datang dengan wajah berang dan napas memburu.

 

“Ada apa, Bli?” Nyoman Kresna bertanya dengan wajah tegang. Mendengar kata Belanda seperti memantik kobaran api di dalam dirinya.

 

“Mereka datang lagi untuk menduduki tanah ini.” Kabar yang dibawa Wayan Daru seperti meriam yang menghantam. Baru saja mereka merasakan angin kemerdekaan setelah Jepang mundur, sekarang harus dicekam lagi oleh kedatangan Belanda.

 

"Kudengar, JBT Konig juga menyurati Pak Rai agar bekerjasama dengannya.” Sudah bukan rahasia lagi siapa sosok Konig itu. Ia adalah perwira Belanda yang congkak dan memilih kabur ke tanah Jawa, menghindari serangan dari fasis Jepang. I Gusti Ngurah Railah yang telah membantunya agar ia tak dibunuh oleh Jepang.

 

“Lalu, apa jawaban Pak Rai?” Nyoman Kresna bertanya dengan tergesa, tak sabar mengetahui jawaban pak Rai.

 

“Beliau menolak. Dalam balasan surat itu, beliau mengatakan bahwa ia bukan kompromis. Demi rakyat dan tanah ini, beliau siap menghadapi Belanda dan menghendaki Belanda segera angkat kaki. Bahkan beliau mengancam, jika Belanda tetap bertahan di tanah Bali, maka mereka sama saja menumbalkan diri.”

 

“Besok malam kami akan berangkat. Pak Rai meminta kami berkumpul di desa Marga. Pagi buta kami harus sudah harus di sana,” tukas Wayan Daru.

 

Mendengar semua itu, napas Nyoman Kresna makin memburu. Kebenciannya pada Belanda semakin membuncah. Dia melirik ke arah Ni Kadek Saraswati yang sedari tadi hanya duduk menyaksikan kegeraman Wayan Daru. Kemudian, juga melirik ke arah perut Ni Kadek Saraswati yang mulai tak rata.

 

Dalam benak keduanya, masih tergambar jelas setiap malam yang mereka lewati. Setelah upacara pernikahan selesai, hujan begitu lebatnya. Desau angin yang membawa dingin, menggiring dua tubuh untuk saling terpaut. Sejak malam itu, malam-malam berikutnya mereka habiskan dengan penuh cinta. Kini, buah cinta itu tumbuh dalam perut Ni Kadek Saraswati.

 

“Kau di sini saja. Jagalah Saraswati dan bayinya. Biar aku yang pergi bersama Pasukan Ciung Wanara," tukas Wayan Daru seolah memahami apa yang dipikirkan oleh Nyoman Kresna. Kakak Ni Kadek Saraswati itu memang keras, tetapi dia bisa begitu lembut bila sudah berhubungan dengan diri Ni Kadek Saraswati.

 

Nyoman Kresna menunduk, meremas-remas kedua tangannya. Ni Kadek Saraswati tahu, suaminya itu diambang kebimbangan. Di satu sisi, dia tak mungkin meninggalkan istrinya seorang diri dalam keadaan hamil. Namun, di sisi lain dia terpikir pasukan Ciung Wanara yang dipimpin oleh Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai itu masih sangat sedikit.

 

Wayan Daru pergi. Ni Kadek Saraswati mengamati langkah demi langkah saudara sekaligus bapa baginya. Ada perasaan tak rela. Sebab saat itu, Wayan Daru hanya membawa senjata golok dan tombak untuk melawan Belanda yang bersenjata lengkap.

 

"Tak ada senjata yang lebih tajam selain doa. Doakan aku," ucapnya sebelum berangkat. Ni Kadek Saraswati menatap nanar kakaknya. Sejak kepergian saudaranya itu, doa-doa selalu ia tajamkan.

 

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pagi-pagi, pasukan Ciung Wanara bergerak sesuai perintah, menyerbu posko NICA hingga berhasil menguasai detasemen polisi NICA di Tabanan dan berhasil merebut puluhan senjata lengkap dengan artilerinya.

 

Hal itu membuat Belanda berang. Mereka memerintahkan seluruh pasukan yang tersebar di Bali dan Lombok untuk mengisolasi desa Adeng-Marga. Bahkan mereka juga mendatangkan pesawat lengkap dengan pengebomnya.

 

Suara tembakan dan dentuman meriam bertalu-talu memekakkan gendang telinga. Nyoman Kresna tampak gusar. Dia membayangkan bagaimana pasukan Ciung Wanara mempertahankan diri menghadapi gemboran timah panas dan bom dengan keris, bambu runcing dan beberapa senapan sisa Jepang.

 

"Pergilah! Mempertahankan tanah ini sama halnya dengan menjagaku dan anak kita." Entah benar atau tidak, akhirnya Ni Kadek Saraswati mengucapkan hal itu. Ia memahami kegelisahan suaminya. Nyoman Kresna merasa seperti pengecut yang hanya mendekam di rumah, sementara suara perjuangan memanggil-manggil jiwanya.

 

"Aku akan kembali dan tanah ini akan tetap menjadi milik kita." Sebelum berangkat, tak lupa ia mengecup istrinya. Ketakutan tiba-tiba merambah dalam hati Ni Kadek Saraswati. Air matanya mengalir membasahi bidang dada Nyoman Kresna saat ia mengeratkan pelukan. Ni Kadek Saraswati bertanya pada dirinya sendiri. Apakah dengan begitu, ia telah melemparkan suaminya pada maut?

 

Tidak! Baginya, suaminya adalah pejuang. Ia yakin suaminya akan kembali.

 

"Kau adalah Raden Inuku. Kita pasti akan bertemu kembali." Begitulah suara hati Ni Kadek Saraswati mengantar suaminya berangkat ke medan tempur.

 

***


"Puputan!" seru I Gusti Ngurah Rai penuh semangat. Meski ia dan pasukannya telah dikepung oleh Belanda, ia tetap bertekad untuk bertempur sampai titik darah penghabisan. Pak Rai membakar semangat sisa pasukan Ciung Wanara yang hanya berjumlah 96 orang.

 

Meski sebagian besar dari mereka adalah tentara yang tak terdidik, pasukan yang dipimpinnya telah banyak melumpuhkan lawan.

 

Sebelumnya, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya menyusuri ujung timur pulau Bali dan melewati Gunung Agung untuk memindahkan mereka ke desa Marga. Namun, rencana mereka berhasil diendus oleh Belanda.

 

Sebenarnya, pasukan Ciung Wanara telah berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Namun, Belanda tak berhenti. Mereka justru mendatangkan lebih banyak pasukan dan pesawat tempur untuk mengepung pasukan Ciung Wanara.

 

"Puputan!" Sekali lagi terdengar seruan yang sama. Lebih baik mati memperjuangkan tanah sendiri daripada tunduk kembali di bawah kaki Belanda.

 

Segelintir pasukan Ciung Wanara terus berjalan, menembus ratusan pasukan Batalyon infanteri KNIL Gajah Merah. Senapan Arisaka 38 peninggalan Nippon tak berhasil menembus bomber yang didatangkan KNIL dari Makassar.

 

Dari arah Kalaci, pasukan Belanda terus merangsek, membombardir pasukan Ciung Wanara yang berusaha mencari perlindungan. Beberapa pasukan gugur dan Belanda terus menggempur mereka.

 

I Gusti Ngurah Rai memandang sekeliling. Tubuh-tubuh pejuang menggelepar dengan darah suci mengalir. Debu dan keringat bercampur darah membasahi seragamnya yang lusuh. Dalam dadanya, detak semangat terus berpacu.

 

"Maju terus pantang mundur!" teriakan I Gusti Ngurah Rai disusul beberapa pasukan yang masih tersisa, Termasuk Nyoman Kresna. Melihat tubuh Wayan Daru yang tergeletak bersimbah darah, membuat hasratnya menembuskan peluru sebanyak mungkin ke tubuh pasukan Belanda semakin menggebu. Namun, ada rasa getir yang tak bisa ia pungkiri. Pelan-pelan ia memanggil nama perempuan yang dicintainya itu.

 

"Dik Saraswati, Candrakiranaku. Aku akan kembali."

 

Suara Nyoman Kresna nyaris tak terdengar ditelan suara letupan senapan dan granat MK2 yang dilemparkan Belanda. Asap mesiu dan anyir darah membubung tinggi menyusul matahari yang lenyap.

 

Malam itu, tanggal 20 November 1946 desa Marga berkalung sunyi. Sembilan puluh enam pasukan Ciung Wanara diantar menuju Sang Hyang Widhi setelah melumpuhkan hampir 400 pasukan Gajah Merah. Darah suci telah dipersembahkan untuk tanah ini.

 

***


Ni Kadek Saraswati menatap sanggar yang ia dirikan 60 tahun yang lalu. Menatap gerak gemulai cicitnya melatih anak didiknya tarian Panji Semirang.

 

"Kini, sudah waktunya Galuh Candrakirana bertemu dengan kekasihnya," terdengar suara lirih Ni Kadek Saraswati. Matanya yang mulai redup menangkap sosok yang begitu ia kenali di pintu kamarnya.

 

"Kaukah itu, Kresnaku?"

 

Lapa Laok, 04 Maret 2022

 

 Editor: Imamatun Nisa

0 comments:

Posting Komentar