Menjelajahi Patah Hati


Menjelajahi Patah Hati (V. Ardo via pixabay)


Menyinggung patah hati, tentu saja setiap orang pasti pernah menyimpan perih dalam dadanya. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi, tidak hanya karena persoalan asmara, ia bisa juga karena kehilangan salah satu anggota keluarga. Meski demikian, kenyataan patah hati sering kali timbul karena hal-hal yang berkaitan dengan energi besar; cinta


Sedih, tangis, galau, frustrasi, merasa rendah diri, sakit hati, dan amarah adalah luapan emosi yang wajar terjadi bagi siapa pun saat patah hati, dan itu sangat normal. Sebab kadar dopamin dan oksitosin, yakni hormon pembuat bahagia dari otak malah menurun.


Kondisi tersebut juga bisa membuat orang yang sedang patah hati mengalami sakit kepala, stamina dan tingkat konsentrasi yang merosot, tidak nafsu makan, susah tidur, dan tubuh lesu. Kembali lagi, semua kondisi itu normal. 

Namun, berhati-hatilah sebab rasa sedih yang timbul oleh patah hati tidak boleh kita anggap remeh. Jika kita biarkan dan pendam terlalu lama hingga berlarut-larut bisa menyebabkan depresi bagi penderitanya.


Karena pada kondisi tersebut, otak malah meningkatkan produksi hormon stres kortisol dan adrenalin. Maka tak jarang orang yang patah hati merasakan nyeri fisik yang nyata, hingga membuat mood buruk dan terus menurun. Juga tidak menutup kemungkinan akibat dari depresi tersebut membuat orang hilang kontrol dan memilih aksi bunuh diri.


Oleh karena itu, lagi-lagi, efek sakit dari patah hati tidak boleh kita anggap remeh.


Jika patah hati menyapa perasaan kita, maka jangan sampai patah hati tersebut membuat kita kehilangan diri kita sendiri, apalagi sampai kehilangan tujuan besar dalam kehidupan kita.


Kita harus segera mengalihkannya, mengatasinya dan menyembuhkannya. Ikhtiar dengan sungguh-sungguh dan terus minta bantuan dan kekuatan kepada Pemilik Semesta.


Proses Penyembuhan Patah Hati


Melansir laman Wolipop, penemuan dari Monmouth University, New Jersey oleh peneliti Gary Lewandowski dan Nicole Bizzoco, terdapat fakta bahwa butuh 6 bulan untuk seseorang bisa move on setelah patah hati.


11 minggu pertama, umumnya orang akan merasa lebih baik terhadap dirinya dan mulai membuat strategi untuk membenahi diri menjadi pribadi yang lebih baik.



Menanggapi hasil penelitian di atas, bagi saya tentu saja hal itu tidak selalu valid. Mengingat kondisi psikologis setiap orang berbeda-beda dan tidak tetap. Jadi, perihal waktu, setiap orang juga punya durasi masing-masing.


Ada yang tidak sampai 6 bulan, dan bahkan ada yang sampai bertahun-tahun, entah itu 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun dan tentu saja ada yang pernah sampai 10 tahun atau mungkin ada yang lebih lama dari itu.


Kondisi ini bukan suatu hal yang tidak mungkin, mengingat kembali bahwa kondisi psikis setiap orang itu berbeda-beda. Tidak memilih apakah ia laki-laki ataupun perempuan, keduanya sama-sama juga berpotensi besar mengalami patah hati.


Perihal proses penyembuhan, setiap orang punya cara tersendiri untuk melampiaskan rasa sakit yang menyiksa hati. Ada yang meluapkannya dengan tangis hingga lelah, mengurung diri dalam kamar, menonton film komedi atau yang lain, membaca buku atau menulis maraton, jalan-jalan atau berlibur ke tempat wisata, meluapkan curahan hati ke orang lain yang amanah dan pengertian, puasa dari media sosial, mendekatkan diri melalui jalan spiritual; seperti membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, dan lain sebagainya.


Intinya menyibukkan diri mencari sesuatu yang mengalihkan perhatian dari apa yang membuat sesak hati. 


Selama memiliki kesadaran dan bertanggungjawab atas fisik dan jiwa kita sendiri, kita akan senantiasa menemukan banyak jalan untuk meredakan stres yang ditimbulkan oleh patah hati. Mau tidak mau, kita harus menghadapi kenyataan pahit itu. Tidak memendamnya sendiri, menerima kenyataan, serta menyadari bahwa yang lalu biarlah berlalu sehingga akan mempermudah proses penyembuhan ketimbang berusaha melawan atau menolaknya secara mentah-mentah.


Kita punya pilihan untuk membuat senang hati kita dengan cara kita sendiri untuk melipur lara dalam hati.


Disadari atau tidak, patah hati adalah kondisi yang berulang. Sebab kehidupan di dunia ini senantiasa saling berganti, pagi bahagia, malam datang nelangsa, atau sebaliknya. Dunia ini hanyalah tempat berjuang, dan kita harus senantiasa berusaha menjalankan peran sebaik-baiknya.


Jika kita sudah bisa melewati kondisi tersebut, ia akan membuat kita semakin kuat dalam menjalani tantangan hidup selanjutnya. Dengan mengingat itu akan senantiasa menyadarkan kita bahwa tidak ada yang abadi di dunia, dan kehidupan yang abadi hanyalah nanti di akhirat. Jika sedih, maka akan sedih seterusnya, dan jika bahagia, maka akan bahagia selamanya. Begitu yang telah Tuhan kabarkan kepada kita, makhluk-Nya.


Dengan patah hati, kita akan sangat sadar tentang kelemahan kita. Menurut para cendekia, ketika kita mengalami patah hati, kita harus merayakannya, karena disadari atau tidak pada kondisi tersebut adalah kondisi paling dekat dan paling intens yang membuat kita merasakan perjumpaan dengan Tuhan.


Editor: Alfiyah RA

0 comments:

Posting Komentar