![]() |
| Unsplash/MostafaMeraji |
"Yah, padahal gue rencananya mau minang lo."
Ucapan serupa angin itu terbang bersamaan petikan gitar yang mengalun lebih nyaring. Membawa pergi, membuatnya hanya ada di awang-awang, lantas lenyap begitu saja.
Namun, sayang sekali menancap keras di ingatanku. Begitu terngiang-ngiang hingga sulit tidur.
Kedua alisku terus saja bertaut. Memeriksa, mengoreksi dengan benar apa yang kudengar beberapa waktu lalu di kantin kampus.
Ucapan sekonyong-konyong seorang lelaki yang tidak bisa dianggap remeh oleh perempuan sepertiku.
Terutama ... setelah kedua kalinya.
"Apa itu bermakna sesuatu atau cuma guyonan belaka?"
Aku menutup Al-Qur'an, mengembalikannya ke tempat, melipat mukena, lalu duduk gelisah di pinggir ranjang. Malam masih panjang kalau digunakan tidur, tetapi perkataannya memang sangat mengganggu kantukku sejak tadi. Memutuskanku untuk menunggu subuh.
"Harusnya aku gak perlu terlalu pikirin, kan?"
Tetapi ...,
Jauh sebelum ucapan itu datang, ada satu kejadian janggal yang sangat tidak nyaman. Satu kejadian yang sebenarnya cukup menjengkelkan.
***
Aku duduk gelisah di depan ruang dosen, menunggu giliran masuk untuk menyerahkan skripsi yang akan dikoreksi saat dia tiba-tiba datang.
Parfumnya begitu mengganggu penciumanku dengan rambut basahnya, tampak baru saja selesai mandi. Membuatku harus melangitkan istighfar berkali-kali dalam hati.
"Eh, Win tolongin gue, dong. Cariin novel lima tahun dari sekarang yang lo tau. Kan lo suka baca novel."
"Buat apa?" Kataku dengan tangan tremor.
"Mau ngajuin ke dosbing gue. Gue cuma mau ganti objek, tapi lupa nyari. Cariin dong, gue mau setor bentar lagi nih. Tolong dicariin, ya? Bisa?"
Aku mengerjap. Menunjukkan gestur tidak nyaman, dia cepat menyadari, mengikis duduk lebih sedikit dan menjaga jarak.
Aku tidak mendengar kata maaf setelahnya, tetapi karena kasihan, aku mulai membongkar ingatan di otak tentang daftar nama novel apa saja yang telah kubaca, berikut pengarang dan tahun terbitnya. Hingga harus mencari di mesin pencarian.
Sedikit malu karena kehabisan paket data dan menumpang ponsel miliknya.
Lima menit mencari dan sedikit grasak-grusuk mengecek dosbingnya, pilihan objek skripsinya jatuh pada novel monumental milik seorang penulis tersohor. Karya Habiburrahman El-Shirazy.
Dia bahkan tidak mengucap terima kasih. Langsung melipir masuk ke ruangan setelah dikirimi pesan oleh sang dosbing.
Aku menggerutu. Jelas sebal sebab terburu-buru tidak jelas, tetapi tidak mendapat sesuatu meski sekecil ucapan terima kasih.
Namun, beberapa menit kemudian dia datang lagi menghampiriku. Membuatku harus mengepalkan tangan daripada melayangkan tonjokan tidak berguna.
Apalagi sekarang?
"Upload persyaratan skripsi di mana, ya?"
Aku menyebut sebuah laman. Masih keki dengan yang tadi.
"Ok." Dia sibuk sebentar, lalu berkata lagi. "Tinggi badan ... 165 ...."
"165?" Entah kenapa aku spontan menyahut. "Gue 165, masa lo-"
"Jadi gue berapa?"
Memotong pembicaraan seperti biasa.
"170 mungkin. Kita-"
Dia mendadak berdiri yang secara impulsif membuatku berdiri di sampingnya, mengukur tinggi kami. Setelah itu dia duduk lagi, meninggalkanku yang termangu tidak mengerti kenapa tubuhku bisa bergerak tanpa diperintah seperti tadi.
Dia memasukkan angka yang kusebutkan, sibuk lagi, kemudian mengirimkan datanya dengan cepat dan selesai. Dia menoleh padaku yang setengah linglung, tersenyum, lalu pergi.
"Makasih kembali," sindirku terang-terangan setelah mendapatkan kesadaranku kembali. Kesalku meningkat berlipat-lipat.
Dia tidak menoleh lagi atau sekadar melambai tangan, pertanda mendengar ucapanku.
Tidak sama sekali.
Hanya itu interaksi kami. Interaksi menyebalkan yang sanggup kuingat karena kekurang ajarannya. Mengakar hingga ke urat kepala.
***
Tetapi sekali lagi, ketika suatu hari pintu rumahku diketuk tiga kali dan dibuka pelan, aku hanya sanggup tercekat melihatnya berdiri di sana dengan ... kedua orang tuanya.
Tersenyum penuh arti.
Menggengam sebuah kotak di tangan.

0 comments:
Posting Komentar