Bukankah kita memiliki angan-angan yang sama? Angan-angan untuk hidup tenang tanpa harus memikirkan penilaian orang lain.
Semua orang berharap dirinya kebal terhadap pendapat orang-orang di sekitarnya. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak dapat diganggu oleh lingkungan sekitar serta harapan akan hinaan dari haters tidak pernah ada dalam hidup.
Tetapi cobalah berpikir ulang dan menyadari bahwa kita masih saja memikirkan penilaian orang lain.
Mengapa kita begitu peduli dengan penilaian orang lain? Bagaimana agar berhenti begitu peduli dengan apa yang orang lain katakan?
Singkatnya, kita sangat peduli karena kita bukan psikopat. Karena peduli dengan apa yang orang lain pikirkan adalah hal yang membuat kita menjadi manusia baik.
Memang pendapat dan persepsi orang lain bisa sangat menegangkan dan membuat tidak nyaman, tetapi itu juga menyebabkan banyak hal baik dalam hidup.
Ketika ada orang bertanya, bagaimana agar berhenti peduli dengan apa yang orang lain pikirkan? Maka yang sebenarnya mereka tanyakan adalah bagaimana cara mengelola pendapat orang lain dengan lebih baik?
Nah, itu pertanyaan yang lebih tepat dan membawa kita ke jawaban selanjutnya.
Mari kita kembali ke zaman purba di mana manusia harus bersusah payah untuk bertahan hidup dan bertarung setiap harinya melawan mamalia lain.
Kita lemah, lambat, buruk dalam hal memanjat, gigi kita tidak terlalu tajam. Jika dibandingkan dengan mamalia lain di dunia hewan, kita sangat buruk dalam segala hal.
Satu-satunya hal yang sangat menonjol dari manusia dan membuat kita lebih unggul dalam hal apa pun dari makhluk lain adalah kecerdasan dan kecerdasan kita berkembang dari masa ke masa.
Kecerdasan manusia dan sosialisasi yang dibangun di atas kecerdasan itu adalah kekuatan super evolusioner. Itu yang membuat kita berada di titik ini.
Di sisi lain, keramahan secara harfiah tertanam di dalam sistem saraf. Kita perlu berinteraksi dengan manusia lain di sekitar kita agar tetap sehat secara fisik dan tetap sehat secara mental.
Kemudian bergeser ke peradaban berikutnya, di mana kita berevolusi dalam suku-suku kecil atau kelompok. Mulai dari puluhan hingga ratusan orang.
Sekarang, suku-suku ini sangat erat, mereka biasanya terdiri dari satu hingga tiga keluarga besar yang berbaur satu sama lain. Setiap hubungan sosial penting. Setiap orang selalu bergantung pada orang lain untuk kelangsungan hidupnya.
Jadi, jika kita membuat kebisingan di malam hari orang lain di suku itu akan sangat marah, dan jika mereka mengusir kita dari suku, kita sudah mati.
Mengapa Demikian?
Manusia tidak dapat bertahan hidup sendirian untuk waktu yang lama di alam liar, dan sebagai akibat dari fakta itu, kita berevolusi untuk menganggap penolakan sosial sama halnya dengan kematian. Ditolak oleh suku adalah ancaman bagi keselamatan kita. Inilah sebabnya mengapa penolakan sosial terasa sangat menyakitkan.
Jadi maksud saya dalam semua ini adalah perasaan ketergantungan sosial membawa kita menjadi sangat peduli dengan penilaian orang lain, itu adalah bagian alami dari kondisi manusia. Setiap orang mengalaminya dan setiap orang harus belajar bagaimana mengatasinya.
***
Sekarang, mari kita bicara tentang apa yang membuat kehidupan modern begitu mengagumkan. Kita dapat bermain video game, mendapatkan realitas virtual, itu semua terlihat keren, tetapi yang terbaik dari kehidupan modern adalah kita dapat memilih suku. Kita dapat mengubah suku, jadi jika kita ditolak atau dikucilkan dari satu suku, kita dapat mencari suku lain yang dapat menerima kita.
Cara lain untuk memikirkan hal ini adalah kita tidak pernah bisa berhenti mencari validasi sosial. Kita akan selalu mendambakan validasi sosial, tetapi yang dapat diubah adalah dari siapa kita mencari validasi itu.
Kita dapat memutuskan, siapa orang yang ingin kita kagumi dan siapa yang layak untuk dibuat terkesan terhadap kita.
Umumnya kita dikelilingi oleh orang-orang yang menyebalkan. Karena kita dikelilingi oleh orang-orang menyebalkan, kita terus-menerus mendambakan pengakuan dari orang-orang menyebalkan.
“Itu tidak pernah berhenti membuat saya takjub: kita semua mencintai diri kita sendiri lebih dari orang lain, tetapi lebih peduli dengan pendapat mereka daripada pendapat kita sendiri.” -Marcus Aurelius
Alih-alih tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, temukan saja orang yang lebih baik. Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang kita kagumi, orang-orang yang kita hormati dan menghormati kita apa adanya.
Jika kita terlalu peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, itu mungkin karena kita tidak memiliki sesuatu yang lebih penting untuk diperhatikan.
Mari kita lakukan perumpamaan: anggaplah seorang bayi terperangkap di gedung yang terbakar dan kamu satu-satunya orang yang tahu bahwa bayi itu ada di sana.
Kemudian kamu mulai berlari ke dalam gedung dan semua orang di sekitar mengatakan kamu sangat gila karena berusaha masuk ke dalam gedung yang sedang terbakar.
Apakah itu akan menghentikan niatanmu masuk ke gedung itu? Tentu tidak, kamu tidak peduli apa yang dipikirkan orang-orang di jalan. Ada seorang anak yang akan mati kemudian kamu pergi menyelamatkannya.
Ketika kamu keluar dan menyelamatkan bayi itu mereka semua memujimu. Kamu yang tidak peduli dengan mereka sejak awal, bagimu yang penting adalah keselamatan bayi itu, di luar validasi sosial, di luar rasa malu, persetujuan, orang setuju atau tidak setuju dengan kamu.
Menyelamatkan hidup seseorang adalah hal yang paling penting pada saat itu.
Nah, itu adalah contoh ekstrem tetapi prinsip yang sama berlaku sepanjang hidup. Kita akan berhenti memedulikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita ketika kita memiliki sesuatu yang lebih penting untuk diperhatikan.
Jika kita rela kehilangan teman atau rasa hormat dari tetangga kita. Saat itulah kita berhenti peduli dengan apa yang dipikirkan mereka.
Editor: Alfiyah RA
Keren tulisannya
BalasHapus