Perempuan di Titik Nol (Sebuah Resensi)

  

bee_sealwhein



Novel Perempuan di Titik Nol merupakan novel yang berdasarkan pada kisah nyata, yang ditulis oleh seorang sastrawan Mesir, Nawal El-Saadawi. Beliau terkenal sebagai seorang penulis feminis dengan reputasi internasional. Sebuah buku yang akan mengejutkan banyak pembaca, pun juga merupakan buku yang berisi kritikan keras dan pedas.


Identitas Buku

Judul: Perempuan di Titik Nol

Pengarang: Nawal El-Saadawi

Penerjemah: Amir Sutaarga

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tahun terbit: 2020 (cetakan ke-15)

Ukuran buku: xxiv + 176 hlm, 11 x 17 cm

ISBN: 978-602-433-438-3


Novel Perempuan di Titik Nol dicetak dengan sampul berwarna merah dan ada gambar seorang perempuan yang berdiri tegap dengan tatapan penuh berani. Perempuan itu menggambarkan tokoh utama dalam novel ini yang diceritakan sebagai seorang pelacur; tubuhnya terpenjara tetapi jiwanya merdeka.


Pada covernya terdapat sosok perempuan dan di belakang sosok perempuan itu tergambar seorang perempuan lain yang tampak terkurung dalam jeruji besi. Perempuan dalam tahanan itu merupakan simbol latar cerita hingga lahirlah kisah dalam buku ini. Sampul buku ini adalah wujud abstrak dari isi cerita yang menghentak-hentak.


Dalam buku ini, penulis menceritakan lika-liku perjalanan Firdaus (sang tokoh utama) yang sedari kecil penuh dengan penderitaan, pelecehan, pemerkosaan, kekerasan serta hal-hal yang mengerikan dan penuh ketidakadilan untuk kaum perempuan.


Juga tentang pertemuan-pertemuannya dengan orang-orang baru, yang pura-pura berbuat baik tetapi nyatanya berniat busuk. Hal itu menyadarkan para pembaca bahwa dunia ini benar-benar menipu. Semua itu Firdaus lewati hingga akhirnya ia menjadi pelacur kelas atas yang berakhir di jeruji besi dan kemudian mengantarnya pada hukuman mati.

Gambaran Patriarki di Mesir dan Dunia


Buku ini berlatar belakang budaya patriarki di negara Mesir, di mana hampir semua perempuan terintimidasi dan tidak memperoleh hak-haknya secara penuh. Meski menggambarkan budaya Timur Tengah, buku ini seakan menyuarakan lantang gemuruh yang dirasakan oleh kaum perempuan di berbagai belahan dunia.


Tentang diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang tercipta oleh budaya dengan alasan perbedaan jenis kelamin. Setiap paragraf dalam buku ini mempunyai makna yang sangat dalam, begitu juga dengan makna dari percakapan antar tokoh. Menghadirkan perenungan-perenungan yang tak berkesudahan.


Melalui kisah Firdaus, penulis sangat berani menyampaikan gagasannya dengan kritikan tajam dan pedas kepada para penguasa, para lelaki dan juga para perempuan yang hanya bisa tunduk pada kekejaman tanpa melakukan perlawanan.


Padahal sebenarnya perempuan itu juga punya hak untuk bersuara dan melawan ketidakadilan, tentu saja dengan cara yang benar. Bagi kaum laki-laki yang membaca buku ini, mungkin sebagian dari mereka akan sadar bahwa identitas mereka dikuliti habis-habisan oleh penulis. Saya hampir kehabisan kata-kata untuk menggambarkan isi dari buku ini. Yang jelas, buku ini menakjubkan!


Buku ini adalah salah satu novel yang berhasil merenggut kemanusiaan saya, mengobrak-abrik pikiran saya dan menjajah perasaan saya yang paling dalam. Iya sampai segitunya! Tetapi, bagi pembaca yang lain mungkin berbeda-beda dampaknya.


Jadi, jangan saling membanding, toh ini hanya masalah persepsi. Kalimat dalam buku ini indah, penuh kejujuran, dan tentunya juga penuh dengan keberanian. By the way, novel ini mengandung kekerasan dan muatan dewasa. Jadi sebagai pembaca, kita harus bijak menyikapinya. 


Jika kamu menyukai buku-buku yang mengangkat topik feminisme, novel ini bisa menjadi salah satu rekomendasi bacaan. Terlebih bagi kamu yang tidak suka membaca buku tebal-tebal. Fisik buku ini kecil, jadi memudahkan kita untuk membawanya ketika bepergian. Selain menarik untuk dibaca, novel ini juga menarik untuk dijadikan bahan diskusi.


Editor: Alfiyah RA

1 komentar: